Makna Fitrah dalam Islam

sumber lengkapnya: http://hendri-ippm-bw.blogspot.com/2009/08/kata-pengantar-puji-syukur-kami.htm

a) Makna Etimologi
Fitrah, menurut Ibn Faris dalam “Mu’jam Maqayis al-Lughah”, menunjukkan pada “terbukanya sesuatu dan melahirkannya”, seperti orang yang berbuka puasa. Berdasarkan makna dasar tersebut maka berkembang menjadi dua makna pokok; Pertama, fitrah berarti al-insyiqaq atau al-syaqq yang berarti al-inkisar (pecah atau belah). Arti ini diambil dari lima ayat yang menyebut kata fitrah yang objeknya ditujukan pada langit saja.
Kedua, fitrah berarti al-khilqah, al-ijad, atau al-ibda’ (penciptaan). Arti ini terdapat pada 14 ayat yang menyebut kata fitrah. Enam ayat di antaranya berkaitan dengan penciptaan manusia, sedangkan yang lain berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi.

b) Makna Nasabi
Pemaknaan fitrah dari makna nasabi diambil dari beberapa ayat dan hadits Nabi. Pada ayat dan hadits tersebut para mufassir sangat beragam dalam menentukan maknanya. Di antaranya adalah :

Pertama, Fitrah berarti suci (al-thuhr). Menurut al-Awzaiy, fitrah memiliki makna kesucian. Pemaknaan ini didukung oleh hadits nabi yang penulis sampaikan sebelumnya, yakni (1) kata fitrah dalam hadits kedua memiliki makna kesucian fisik manusia. Barangsiapa yang melakukan sepuluh hal tersebut maka fisiknya fitri (suci). (2) kata fitrah dalam hadits ketiga memiliki makna suci, yaitu kesucian harta dan jiwa setelah melaksanakan zakat fitrah. Barangsiapa yang telah mengeluarkan zakat fitrah maka harta dan jiwanya menjadi fitri (suci).

Kedua, fitrah berarti potensi ber-Islam (al-din al-Islamiy). Pemaknaan ini dikemukakan oleh Abu Hurairah bahwa fitrah berarti beragama Islam. Sabda Nabi SAW :
“Bukankah aku telah menceritakan kepadamu tentang sesuatu yang Allah telah menceritakan kepadaku dalam kitab-Nya, bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya untuk berpotensi menjadi orang-orang Islam yang suci.” (H.R. Iyadh ibn Khumair)
Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa fitrah merupakan potensi bawaan setiap manusia. Potensi bawaan ini ada sejak zaman permulaan penciptaan yaitu pada alam perjanjian (‘alam al-mitsaq). Potensi bawaan itu berupa agama Islam, yaitu mengenal (ma’rifah) dan mencintai (mahabbah) kepada Allah SWT. Potensi ini tidak hanya diberikan pada keturunan Muslim, tetapi juga diberikan kepada seluruh manusia, termasuk keturunan kafir.

Ketiga, fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah (tauhid Allah). Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, atau paling tidak, ia cenderung untuk mengesakan Tuhan dan berusaha secara terus-menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut. Manusia secara fitrah telah memiliki watak dan rasa tauhid walaupun masih dalam alam ruh. Hal ini telah digambarkan dalam dialog antara Allah dan ruh, yaitu :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhan-mu? Mereka menjawab, Tentu (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Q.S. al-A’raaf:172)

Keempat, fitrah berarti kondisi selamat (al-salamah) dan kontinuitas (al-istiqomah). Pemaknaan ini dilontarkan oleh Abu Umar ibn ‘Abd al-Bar. Dalam hadits qudsi dinyatakan :
“Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (continue dan selamat). Maka syaitanlah yang menarik pada keburukan.” (H.R. Ahmad ibn Hambal dari ‘Iyadh ibn Humair)

Kelima, fitrah berarti perasaan yang tulus (al-ikhlas). Manusia lahir dengan membawa sifat baik. Di antara sifat itu adalah ketulusan dan kemurnian dalam menjalankan segala aktifitas. Konsep inilah yang dimaksud dengan ikhlas sehingga dapt disimpulkan bahwa ketidakikhlasan merupakan penyelewengan fitrah manusia. Nabi SAW bersabda :
“Tiga perkara yang menjadikan keselamatan, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah yang manusia diciptakan darinya, shalat berupa agama, dan taat berupa perisai.” (H.R. Abu Hamid dari Mu’az)

Keenam, fitrah berarti kesangggupan untuk menerima kebenaran (isti’dad li qabul al-haq). Secara fitri manusia lahir cenderung berusaha mencari kebenaran, walaupun pencarian itu masih tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam.

Ketujuh, fitrah berarti potensi dasar manusia atau perasaan untuk beribadah (syu’ur li al-‘ubudiyah) dan makrifat kepada Allah. Dalam pemaknaan ini, aktifitas manusia merupakan tolak ukur pemaknaan fitrah. Fitrah merupakan watak asli manusia, sedangkan watak itu
terlihat melalui aktifitas tertentu, yaitu ibadah.

Kedelapan, fitrah berarti ketetapan atau takdir asal manusia mengenai kebahagiaan (al-sa’adat) dan kesengsaraan (al-syaqawat) hidup. Pendapat ini dipegang oleh Ibn Abbas, Ka’ab ibn Quradhiy, Abu Sa’id al-Khudriy, dan Ahmad ibn Hambal.

Kesembilan, fitrah sebagai tabiat atau watak asli manusia (thabi’iyah al-insan). Watak atau tabiat menurut Ikhwan al-Shafa adalah daya dari daya nafs kulliyah yang menggerakkan jasad manusia. Makna inilah yang lebih tepat untuk mengungkap pembagian, natur, dan aktifitas fitrah.

Kesepuluh, fitrah berarti sifat-sifat Allah SWT yang ditiupkan untuk setiap manusia sebelum dilahirkan. Bentuk-bentuknya adalah asma’ al-husna yang berjumlah 99 nama-nama terindah. Firman Allah SWT :
“Dan Aku meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (Q.S. Al-Hijr:29)

c) Makna Istilah menurut Ahli Pendidikan Islam
Ada beberapa pengertian tentang fitrah yang dikemukakan oleh para ahli. Masing-masing definisi memiliki sudut pandang yang berbeda-beda.

Pertama, definisi yang dikemukakan oleh al-Raghib al-Asfahaniy :
”Fitrah adalah mewujudkan dan mengadakan sesuatu menurut kondisinya yang dipersiapkan untuk melakukan perbuatan tertentu.”
Pengertian ini masih bersifat umum dan tidak mencerminkan kejelasan maksudnya. Fitrah dianggap sesuatu (al-sya’i). Sesuatu di sini belum jelas apakah berupa disposisi (al-isti’dad), karakter (al-thab’u), sifat (al-sifat), atau konstitusi (al-jibillat). Semuanya masih bersifat umum. Fitrah juga diciptakan menurut kondisinya (al-hai’at). Kondisi di sini entah berupa keselamatan, istiqomah, keislaman, kekufuran, dan sebagainya. Semua masih bersifat umum. Fitrah juga dipersiapkan untuk melakukan “perbuatan sesuatu”. Perbuatan tertentu ini entah berupa berpikir, berbuat, atau berperasaan. Semuanya juga masih belum jelas. Karena itu perlu dicarikan lagi pengertian yang lain.

Kedua, definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Manzhur dan al-Jurjaniy :
“Fitrah adalah kondisi konstitusi dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima agama.”
Pengertian kedua ini menjelaskan dan membatasi pengertian fitrah yang pertama. Dalam pengertian ini, fitrah dianggap sebagai suatu kondisi (halat) konstitusi dan watak manusia. Konstitusi manusia memiliki aspek fisik dan psikis. Demikian juga watak manusia memiliki kondisi baik dan buruk. Kondisi ini sudah ada sejak awal penciptaan manusia. Tujuan penciptaan konstitusi dan watak tersebut adalah agar manusia mampu menerima agama. Sedangkan agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah al-Islam. Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan memiliki potensi untuk menerima agama. Agama di sini tidak terbatas pada agama Islam saja, melainkan juga mencakup agama-agama yang lain. Konstitusi dan watak yang selamat adalah yang menerima agama Islam, sebab agama Islam-lah yang merupakan agama fitri manusia.

Ketiga, definisi yang dikemukakan oleh Abu Ayyub ibn Musa al-Husain :
“Fitrah adalah sifat yang digunakan untuk mensifati semua yang ada (di dunia) sewaktu awal penciptaannya.”
Definisi ketiga ini membatasi makna fitrah sebagai suatu “sifat”. Sifat di sini berlaku untuk semua makhluk di alam raya. Misalnya malaikat memiliki sifat (fitrah) yang baik, taat, bertasbih, dan tidak pernah melanggar aturan Allah SWT. Sedangkan syaitan berfitrah sebagai makhluk yang buruk, sesat, durhaka, dan selalu menyesatkan manusia. Hewan berfitrah sebagai makhluk yang berinsting dan berhawa nafsu. Sementara manusia berfitrah sebagai makhluk yang memiliki semua fitrah yang dimiliki oleh semua yang ada di alam raya ini. Fitrah atau sifat ini telah diciptakan oleh Allah SWT sejak awal penciptaannya.

Keempat, definisi yang dikemukakan oleh Muhammad ibn Asyur yang dikutip oleh M. Quraish Shihab :
“Fitrah adalah suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang khusus untuk jenis manusia adalah apa yang diciptakan Allah padanya yang berkaitan dengan jasad dan akal (ruh).”
Dalam definisi tersebut, nampak bahwa fitrah memiliki ruang lingkup yang luas. Fitrah mencakup totalitas apa yang ada di dalam alam dan manusia. Fitrah yang berada di dalam manusia merupakan substansi yang memiliki organisasi konstitusi yang dikendalikan oleh sistem tertentu. Sistem yang dimaksud terstruktur dari komponen jasad dan ruh. Masing-masing komponen ini memiliki sifat dasar, natur, watak, dan cara kerja tersendiri. Semua komponen itu bersifat potensial yang diciptakan oleh Allah sejak awal penciptaannya. Aktualitas fitrah menimbulkan tingkah laku manusia yang disebut dengan “kepribadian”. Kepribadian inilah yang menjadi ciri unik manusia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s