Sudahkah Kita Mengaplikasikan Surat Al Ma’un?

 

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ ﴿٧


Ara-ayta alladzii yukadzdzibu biddiini, fadzaalika alladzii yadu”u alyatiima, walaa yahudhdhu ‘alaa tha’aami almiskiini, fawaylun lilmushalliina, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuuna, alladziina hum yuraauun, wayamna’uuna almaa’uuna.

Translate:
1). Hast thou observed him who belieth religion
2). That is he who repelleth the orphan
3). And urgeth not the feeding of the needy
4). Ah , woe unto worshippers
5). Who are heedless of their prayer
6). Who would be seen ( at worship )
7). Yet refuse small kindnesses!

Artinya:
1). Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2). Itulah orang yang menghardik anak yatim
3). Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
5). (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya
6). Orang-orang yang berbuat riya
7). Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Surat yang amat pendek tapi syarat teguran bagi kita sebagai seorang yang mengaku beragama Islam.

Belajar dari Hewan

Kajian subuh minggu tanggal 22 September 2013 mengambil topik belajar dari binatang. Berikut intisari diskusinya:

1) Wiryono berpendapat bahwa dalam dunia hewan tidak ada akhlaq (nilai baik dan buruk). Yang dapat dipelajari dari hewan adalah tentang sains (ipteks) bukan akhlaq. Manusia bisa mengambil hikmah dari perilaku hewan tersebut  untuk perbaikkan akhlaq manusia. Kehadiran hewan itu berfungsi dalam rangka menjaga  keseimbangan ekosistem di bumi ini.

2) Suwarsono berpendapat bahwa yang membedakan hewan dengan manusia itu adalah lebih pada kapasitas intelektual dan spiritual, dimana manusia mempunyai kapasitas intelektual dan spiritual yang lebih tinggi daripada hewan.

3) Choirul Muslim berpendapat bahwa salah satu sifat hewan adalah sifat egois yang dalam hal ini bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, hewan tidak memiliki budaya atau jika adapun itu sangat sedikit. Berbeda dengan hewan, manusia mampu mengembangkan sifat solidaritas antar kelompok sementara hewan hanya tidak.

4) Aminuddin berpendapat bahwa hewan tidak berbudaya sebagaimana manusia berdasarkan definisi budaya. Saya pikir hewan itu ada yang bersifat buruk dan bersifat baik. Misalnya, bagaimana perilaku babi yang makan segala bahkan yang busukpun dimakannya? Lalu bagaimana jika ada seekor induk burung sedang memberi makan anaknya, lalu datang singa yang memangsanya apakah itu bukan buruk?

5) Urip Santoso berpendapat bahwa babi itu makan segala dari sisi lingkungan justru baik, karena bisa mempercepat proses pembusukan di alam sehingga keseimbangan alam terjaga. Singa yang menerkam burung tanpa memikirkan burung tersebut itu dalam rangka memenuhi kebutuhan makan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Ini memang hukum alam yang berlaku bagi hewan, yang mempunyai sistim rantai makanan yang sudah tertentu dalam rangka mencapai keseimbangan alam.

Berikut sajian power pointnya:

Mari Belajar dari Binatang

Kumpulan Hadist tentang Ilmu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ

Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ

Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ

Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Sumber: http://hikmah-kata.blogspot.com/2012/09/hadits-tentang-menuntut-ilmu-pengetahuan.html Continue reading

Cara Bersyukur Kepada Allah

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah S.W.T terdiri dari empat komponen, yaitu:

1. Syukur dengan Hati.

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah”
(QS. An-Nahl: 53)

Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya. Continue reading

Yang mengurangi Pahala Puasa

Ada 3 golongan dalam menyambut Ramadhan, yaitu yang gembira, yang setengah hati dan yang ketakutan.

Yang mengurangi  pahala puasa atau yang akan menguranginya adalah sebagai berikut:

1. Qauluz-zur yakni ucapan dusta [Fathul Bari:4/117]

2. Mengamalkan qouluz-zur yakni perbuatan yang merupakan tindak lanjut atau konsekuensi dari ucapan dusta [Fathul Bari:4/117]

3. Jahl yakni amalan kebodohan [Fathul Bari:4/117]

4. Rafats yakni seperti dijelaskan Al-Mundziri: Terkadang kata ini disebutkan dengan makna bersetubuh, dan terkadang dengan makna, ‘kata-kata yang keji dan kotor’ dan terkadang bermakna ‘pembicaraan seorang lelaki dan perempuan seputar hubungan sex’, dan banyak dari ulama mengatakan: ‘yang dimaksud dengan kata rafats dalam hadits ini adalah ‘kata kotor keji dan jelek’. [Shahih Targhib:1/481] dengan makna yang terakhir ini maka punya pengertian yang lebih luas dan tentu mencakup makna-makna yang sebelumnya disebutkan. –Wallahu A’lam’-

5. Laghwu yakni ucapan yang tidak punya nilai atau manfaat [lihat An-Nihayah:4/257 dan Al-Mishbahul Munir:555] dan –wallahu a’lam- mencakup juga amalan yang tidak ada manfaatnya [lihat semakna dengannya kitab Faidhul Qodir:6228]

6. Shakhab yakni bersuara keras dan ribut dikarenakan pertikaian [An-Nihayah:3/14, Lisanul Arab:1/521] Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: Yakni jangan berteriak dan jangan bertikai [catatan kaki Mukhtashar Shahih al-Bukhari:443]

7. Bertengkar mulut

(http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=article_detail&idb=97)

8. Bergunjing.

9. Keras hati.

10. Berbuat aniaya.

11. Berangan-angan kosong

12. Mengutamakan urusan dunia.

13. Bersaksi palsu.

14. dan lain-lain

Mari kita jalani puasa Ramadhan dengan amalan-amalan yang baik, dan mari kita menjalaninya dengan gembira dan ikhlas.

Isra Miraj Menurut Sains

Kajian minggu pagi tanggal 16 Juni 2013 mengambil topik isra Miraj menurut Sains. Narasumber, Suwarsono, sebagai ahli fisika mencoba mengurai apakah Nabi Muhammad itu Isra Miraj secara fisik atau tidak. Intinya, perjalanan Nabi Muhammad bisa secara fisik bukan saja secara ruh. Syaratnya Nabi Muhammad fisiknya ditransformasi menjadi bentuk energi agar mampu menempuh perjalanan jauh dengan cepat dan dalam waktu sekejap. Narasumber merujuk pada rumus Einstein dan menghitung bahwa kecepatan energi bisa mencapai 90 milyard km/detik.

Berikut sajian power pointnya.

DARUSALAM-JUNI-2013-A

DARUSALAM-JUNI-2013

Baca pula link berikut ini disini. dan baca juga hal ini. Baca juga hadist Isra’ Mi’raja di link ini.