Cinta dan Benci Karena Allah

Oleh Drs. Akhmad Safrudin

Disampaikan pada pengajian bada Jum’at di Masjid Al Ikhlas Bina Insani, 22 Februari 2008

Man ahabba lillahi, wa abghadha lillahi, wa a’thaa lillahi, wa mana’a lillaahi, faqadistakmalal iimaana.”

Artinya: “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menolak karena Allah, maka ia benar-benar telah menyempurnakan iman.”

Salah satu kata yang banyak disebut, disanjung dan didambakan adalah kata cinta. Cinta adalah anugerah Allah yang diberikan kepada semua makhluk. Tanpa cinta hancurlah existensi makhluk tersebut.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta, cinta berarti selalu teringat dan terpikir dalam hati, rasa sayang dan ketertarikan hati.

Bagi manusia, cinta dapat membuahkan kreativitas. Ketika manusia mencintai sesuatu, maka muncullah kreativitas tertentu, apakah dalam bentuk karya puisi, karya lukisan, ataupun karya seni lain sebagai manifestasi dan penghayatan terhadap arti cinta. Karena itu, cinta adalah energi, sumber kekuatan dari sebuah nikmat Allah yang teramat mulia. 

Karena dia adalah sumber energi, maka dalam pandangan kita, cinta yang dikehendaki bukanlah cinta yang meproduksi sekian banyak kebencian.

Cinta yang muncul dari hati yang tulus akan melahirkan sebuah konsekuensi, konsekuensi dari rasa cinta, adalah pengabdian. Seseorang yang dengan tulus mencintai sesuatu akan rela mengorbankan dirinya demi rasa cintanya itu. Cinta harus tumbuh, tetapi petumbuhannya harus senantiasa dibimbing oleh pengetahuan, dengan jalan mengaktifkan potensi akal. Cinta yang tidak dibimbing oleh akal akan melahirkan cinta buta, yaitu cinta yang mencampakkan hal-hal yang obeyektif karena dikendalikan oleh nafsu, sehingga acapkali muncul perbuatan-perbuatan yang menodai rasa cinta itu sendiri.

Dalam kehidupan, cinta selalu berkonfrontasi dengan benci. Bertambah intensif rasa cinta maka bertambah intensif pula perasaan benci. Ketika cintanya gagal, maka tampillah perasaan benci.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta, benci berarti perasaan sangat tidak suka.

Cinta dan benci merupakan dua kata yang saling bertolak belakang.

Ukuran cinta dan benci ada pada Allah

1. QS. Al Hujurat : 11

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita lain, boleh jadi wanita yang diperolok-olok itu lebih baik, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri [1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”

[1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

2. QS. Al Baqarah : 216

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

Tuntunan dalam mencintai

1. Cinta kepada dunia

Man ahabba dunyaahu adhorro bi aakhiratihi, waman ahabbu aakhiratahu, adhorro bidunyaahu fa aatsiruu maam yabqaa ‘alaa maa yafnaa

“Barang siapa yang mencintai urusan dunianya, maka ia merugikan urusan akhiratnya, dan barang siapa yang mencintai urusan akhiratnya maka ia merugikan urusan dunianya, karena itu pilihlah perkara yang kekal abadi daripada perkara yang dapat rusak binasa.”

“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

2. Cinta kepada orang tua

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.

3. Cinta kepada pasangan

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

4. Cinta kepada Allah dan Rasulullah saw.

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Cinta kepada Allah dan Rasulullah akan melahirkan sebuah pengabdian. Pengabdian kepada Allah dan Rasulullah diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul. Ketaatan kepada Allah dan Rasul berarti ketaatan kepada syariat Islam. Sehingga dengan demikian, orang yang mencintai Allah dan Rasulullah, maka dengan sendirinya dia akan menjadikan syariat Islam sebagai aturan-aturan di dalam kehidupannya.

Mengapa harus dengan syari’at Islam ?
1. Karena manusia diciptakan oleh Allah (makhluk)
2. Karena manusia akan mati dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat (hisab).
3. Syariat Allah bagi manusia di dunia merupakan penjelas dan penghubung antara apa yang akan dipertanggungjawabkan dan bagaimana konsekuensi pertanggungjawaban? diterima atau ditolak oleh Allah.

Oleh karena itu, pengabdian kepada Allah, bukan mengharapkan imbalan duniawi, tetapi semata-mata hanya mengharapkan kecintaan Ilahi Rabbi, karena cinta yang masih mengharapkan imbalan atau keinginan yang masih berbau duniawi tidak lain hanyalah cinta komersil bagaikan sebuah komoditi. Cinta sejati tidak mengharapkan apa-apa, kecuali dicintai oleh Allah SWT.

Seorang sufi yang sangat termasyhur, Rabiah Al Adawiyah menyatakan hubbul ilaahiyyah (cinta kepada Allah) merupakan cetusan rasa cinta dan rindu, sebagaimana ucapannya, “Aku mengabdi kepada Allah bukan karena aku takut neraka … bukan pula ingin masuk surga … tetapi aku mengabdi karena cinta dan rinduku kepada Nya.

Sebagaimana juga seorang sufi, Abunawas dalam syairnya :

“Ilahi lastu lil firdausi ahlaa walaa aqwaa ‘alannaaril jahiimi.”

“Ya Tuhanku, tidak pantas aku memasuki surga-Mu, tetapi juga aku tak kuat berada dalam neraka-Mu”

Dengan demikian, cinta kepada Allah adalah kebahagiaan untuk berkorban, kerinduan untuk memenuhi seluruh perintah dan sekaligus merupakan energi jihad yang memberikan kekuatan dahsyat untuk menghindari larangan-Nya. Ungkapan hablum minallah tidak lain adalah refleksi kerinduan seorang makhluk kepada kholiqnya. Dalam hubungannya dengan Allah potensi dzikir, iman dan kepatuhan (sami’na wa atho’na) merupakan ciri khas seorang hamba (Abdullah) dalam menghampiri Tuhannya.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka [1045] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”

[1045] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin.

Sedangkan hablum minan nas adalah sebuah percikan cinta yang diwujudkan dalam sifat assalaam (kesejahteraan dan keselamatan), sebagaimana dilambangkan oleh ucapan seseorang dalam mengakhiri ibadah shalat. Dalam berhadapan dengan manusia dan alam, kita harus berdiri sebagai rahmatan lil ‘alamiin yang memberikan makna dan kesejahteraan bagi lingkungannya.

Intinya, di hadapan Allah memposisikan dirinya sebagai Abdullah, dan di hadapan manusia sebagai khalifah fil Ardi, yang memberikan Rahmat bagi lingkungannya. Wallahu A’lam.

Sumber: http://www.binainsanibogor.org/index.php?option=com_content&view=article&id=21:cinta-dan-benci-karena-allah&catid=30:jendela-islamika&Itemid=78

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s