Tarekat Sosial dalam Masyarakat Global

(Bahan Kajian Minggu Subuh tanggal 26-2-2012)

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Ada perspektif globalisasi, yaitu perspektif politik dan social. Perspektif politik menimbulkan semangat kolonisasi dimana negara yang kuat menjajah negara yang lemah. Perspektif social terjadi dimana negara yang kuat budayanya akan mempengaruhi budaya negara yang lemah. Perspektif social ini sudah mawujud dimana suatu negara sekarang sangat terpengaruh oleh TIK. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap degradasi nilai-nilai agama. Continue reading

Advertisements

Tujuh Golongan yang Dinaungi oleh Allah

Khatbah jum’at tanggal 24 Febrari 2012 mengambil judul: “Tujuh glongan yang dinaungi oleh Allah di padang masyar. Khatib menyampaikan hadist terkenal ini.

Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata : sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya” (HR Bukhari Muslim). Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik sholat yang dilakukan oleh seseorang adalah sholat yang dilakukan di rumahnya kecuali sholat wajib” (HR Bukhari Muslim)

 

Akhlakul Karimah

(Salah satu bahan kajian minggu subuh tanggal 19 Februari 2012)

Kata akhlak secara etimologi berasal dari kata al-akhlaaqu yang merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluqu yang berarti tabiat, kelakuan, perangai, adat kebiasaan atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi secara etimologi akhlak itu berarti perangai, tabiat atau sistem perilaku yang dibuat.

Secara terminologi, akhlak adalah pola perilaku yang berdasarkan kepada dan memanifestasikan nilai-nilai Iman, Islam dan Ihsan. Menurut Imam Ghazali, akhlak yaitu suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang menampilkan perbuatan dengan senang tanpa memerlukan penelitian dan pemikiran. Sedangkan karimah berarti mulia, terpuji, baik. Apabila perbuatan yang keluar atau yang dilakukan itu baik dan terpuji menurut syariat dan akal maka perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah.
Continue reading

Mengajak Kepada Kebaikkan dan Mencegah Kemungkaran

Kukhbah Jum’at tanggal 17 Februari 2012 mengambil topic tentang mengajak kebaikkan dan  mencegah kemungkaran. Pada dasarnya manusia mempunyai kecenderungan berbuat kejahatan. Berbagai kejahatan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengki, iri, hasut, fitnah, dan lain sebagainya mendatangkan kerusakan di muka bumi. Sifat lebih meentingkan diri dan kelompok sangat ditonjolkan. Sifat ini bahkan juga dipunyai oleh sebuah bangsa. Ada bangsa yang suka menjajah. Aku bangsa yang suka mengintervensi dan lain sebagainya.

Alalh swt memerintahkan kepada umat manusia untuk menjadi individu/kelompok terdepan dalam hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 110 sebagai berikut:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah Ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imron :110)

Demikian pula, Allah membedakan kaum mukminin dari kaum munafikin dengan Amar ma’ruf nahi munkar ini. Allah berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah:71)

Seorang muslim diperintahkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan tangan (kekuasaan, atau dengan lisan (da’wah) dan jika tidak bisa minimal mendukung kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar tersebut. Di Akhir khutbahnya, khatib mengajak kepada jamaah Jum’at untuk senantiasa nasehat-menasehati dalam kebaikkan dan kebenaran.

Mengenal Manajemen Kuantitatif untuk Optimalisasi Capaian Ibadah

(Kajian minggu subuh 12 Februari 2012)

Narasumber kajian topik ini adalah Fanani Haryo Widodo, pakar matematika Universitas Bengkulu. Manajemen kuantitatif adalah aplikasi matematika ke dalam kegiatan operasional. Model matematika bisa digunakan untuk menggambarkan suatu problem yang ada di masyarakat. Problem yang berupa kualitatif dapat dikuantitatifkan lalu dicarikan hubungan antara variabel satu dengan yang lain yang terlibat dan teridentifikasi dalam suatu masalah/kegiatan. Ya, model matematika dibangun untuk merumuskan hubungan antara variabel dan parameter yang terlibat dan teridentifikasi.

Misalnya problem riil: hitung waktu shalat, lama kerja, lama tidur, dzikir dll. Lalu dibuat beberapa asumsi. Misalnya shalat jamaah 27, shalat wajib bernilai 10, tahajud bernilai 25, shalat duha 7, kegiatan non syar’i 10, tanpa ingat Allah 0, shalat rawatib 5 dan lain-lain. Angka-angka tadi hanya contoh, belum berupa asumsi yang ada dasarnya.

Berdasarkan asumsi-asumsi itu dibuat model matematikanya. Pada model kali ini menggunakan program linear. Untuk bisa dijadikan model matematika, maka: a) perlu adanya pendefinisian variabel keputusan; b) perumusan fungsi tujuan; c) perumusan fungsi kendala; d) perumusan batasan nilai variabel.

Setelah semuanya dibuat, maka dimasukkan ke dalam maksimasi program liner. Setelah diperiksa model yang dibuat itu benar dan tidak ada kesalahan, baru kemudian dihitung dengan menggunakan software seperti LINDO. Nanti akan diperoleh nilai ibadah yang telah dilaksanakan.

Dalam diskusi yang seru, diungkapkan oleh para jamaah bahwa model ini baru pengenalan dan belum bisa dijadikan acuan. Sebabnya antara lain asumsi yang dibuat belum ada dasarnya, ibadah sulit dikuantitatifkan, ibadah banyak sekali lalu bagaimana membuat itu semua ke dalam model matematika, lalu bagaimana menghitung riya, ikhlas, dll.

Memang diakui model ini baru pengenalan dan memerlukan kajian yang lebih mendalam. Model ini dilatarbelakangi oleh anjuran bahwa sebaiknya setiap individu menghitung amalnya sebelum dihitung. Menghitung memang bisa secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Walau bagaimanapun penyaji berusaha mengenalkan sesuatu yang baru, yang dapat menjadi bahan renungan/kajian bagaimana megkuantitatifkan aktivitas ibadah. Mungkin bisa dimulai dari satu aktivitas ibadah dibuatkan model matematikanya.

Hidayah, Bagaimana Meraihnya?


(Kajian minggu subuh tanggal 5 Februari 2012)

Hidayah itu merupakan kebutuhan dasar bagi manusia yang beriman kepada Allah. Hal ini tersirat dalam Surat Al Fatihah, yaitu:

“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnyaContinue reading

Misi Para Rasul dan Agamawan dalam menghadapi Kemungkaran

Oleh: Darudin

(disampaikan pada kajian subuh tanggal 29 Januari 2012)

Para rasul diutus oleh Allah dikarenakan adanya kemungkaran di muka bumi. Saat ini Indonesia juga sedang dilanda berbagai hal yang menjurus kea rah kemungkaran. Oleh karena rasul sudah tidak ada yang diutus oleh Allah, maka menjadi tugas agamawan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar di bumi Indonesia.

Banyak peristiwa di Indonesia yang berkaitan dengan perlunya mengingat dan mempelajari apa yang menjadi tugas para rasul dan agamawan. Di Indonesia banyak terjadi konflik agrarian, yang banyak menimbulkan dampak negative bagi masyarakat. Ada pula kasus nelayan merusak tanggul kelapa sawit dikarenakan kebun kelapa sawit telah merusak hutan bakau. Hal ini membuat pendapatan nelayan menurun drastic. Dengan dirusaknya tanggul tersebut nelayan berharap hutan bakau akan pullih kembali. Kita semua juga tahu betapa korupsi merajalela di setiap sudut negeri ini, dan sulit diberantas. Kita juga melihat betapa hukum tidak adil dan sangat tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Hukum hanya berlaku bagi rakyat jelata. Lihat saja kasus pencurian kecil-kecilan dihukum tegas, tetapi pencurian besar-besaran dibiarkan bebas beranjangsana. Selain itu, politik di negeri ini lebih banyak ditujukan bagi pencitraan pejabat, bukan mencari solusi bagi permasalahan bangsa. Rakyat kecil seperti pedagang kaki lima, tukang becak dll. digusur sehingga kehilangan mata pencahariannya. Continue reading