Mengenal Manajemen Kuantitatif untuk Optimalisasi Capaian Ibadah

(Kajian minggu subuh 12 Februari 2012)

Narasumber kajian topik ini adalah Fanani Haryo Widodo, pakar matematika Universitas Bengkulu. Manajemen kuantitatif adalah aplikasi matematika ke dalam kegiatan operasional. Model matematika bisa digunakan untuk menggambarkan suatu problem yang ada di masyarakat. Problem yang berupa kualitatif dapat dikuantitatifkan lalu dicarikan hubungan antara variabel satu dengan yang lain yang terlibat dan teridentifikasi dalam suatu masalah/kegiatan. Ya, model matematika dibangun untuk merumuskan hubungan antara variabel dan parameter yang terlibat dan teridentifikasi.

Misalnya problem riil: hitung waktu shalat, lama kerja, lama tidur, dzikir dll. Lalu dibuat beberapa asumsi. Misalnya shalat jamaah 27, shalat wajib bernilai 10, tahajud bernilai 25, shalat duha 7, kegiatan non syar’i 10, tanpa ingat Allah 0, shalat rawatib 5 dan lain-lain. Angka-angka tadi hanya contoh, belum berupa asumsi yang ada dasarnya.

Berdasarkan asumsi-asumsi itu dibuat model matematikanya. Pada model kali ini menggunakan program linear. Untuk bisa dijadikan model matematika, maka: a) perlu adanya pendefinisian variabel keputusan; b) perumusan fungsi tujuan; c) perumusan fungsi kendala; d) perumusan batasan nilai variabel.

Setelah semuanya dibuat, maka dimasukkan ke dalam maksimasi program liner. Setelah diperiksa model yang dibuat itu benar dan tidak ada kesalahan, baru kemudian dihitung dengan menggunakan software seperti LINDO. Nanti akan diperoleh nilai ibadah yang telah dilaksanakan.

Dalam diskusi yang seru, diungkapkan oleh para jamaah bahwa model ini baru pengenalan dan belum bisa dijadikan acuan. Sebabnya antara lain asumsi yang dibuat belum ada dasarnya, ibadah sulit dikuantitatifkan, ibadah banyak sekali lalu bagaimana membuat itu semua ke dalam model matematika, lalu bagaimana menghitung riya, ikhlas, dll.

Memang diakui model ini baru pengenalan dan memerlukan kajian yang lebih mendalam. Model ini dilatarbelakangi oleh anjuran bahwa sebaiknya setiap individu menghitung amalnya sebelum dihitung. Menghitung memang bisa secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Walau bagaimanapun penyaji berusaha mengenalkan sesuatu yang baru, yang dapat menjadi bahan renungan/kajian bagaimana megkuantitatifkan aktivitas ibadah. Mungkin bisa dimulai dari satu aktivitas ibadah dibuatkan model matematikanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s