METODE BELAJAR-MENGAJAR NABI KHIDIR VS NABI MUSA

Oleh: Urip Santoso

Anda tentu saja masih ingat cerita Nabi Khidir dan Nabi Musa. Pada zaman Nabi Musa, Nabi Musa ditanya oleh seseorang siapakah orang yang paling berilmu di dunia ini. Musa menjawab bahwa yang paling berilmu adalah saya. Pendapat Nabi Musa ini kemudian disindir oleh Allah dengan wahyunya bahwa ada seorang hambaku yang lebih berilmu daripada Nabi Musa. Nabi Musa yang memang haus akan ilmu kemudian bertanya kepada-Nya dimana ia dapat menemukan orang itu. Singkatnya setelah mendapat petunjuk dari Allah berangkatlah Nabi Musa mencari hamba Allah yang disebut oleh Allah lebih berilmu itu. Musa dengan semangat ingin berguru kepada orang itu, yang kemudian dikenal dengan Nabi Khidir. Singkatnya Nabi Musa kemudian bertemu dengan Nabi Khidir dan mengutarakan maksudnya. Nabi Khidir menjawab bahwa Nabi Musa tidak akan sabar berguru padanya. Akan tetapi Nabi Musa berkeras dan sanggup akan sabar berguru. Nabi Khidir kemudian menyanggupi dengan syarat apapun yang dilakukan oleh Nabi Khidir, Nabi Musa tidak boleh bertanya.

            Setelah sepakat mulailah Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir. Dalam perjalanannya, Nabi Khidir melakukan sesuatu yang dianggap oleh Nabi Musa janggal, maka iapun tidak sabar dan akhirnya bertanya. Setelah beberapa kali Nabi Musa bertanya, maka Nabi Khidir akhirnya memutuskan bahwa Nabi Musa cukuplah sampai disini berguru kepadanya. Nabi Khidir kemudian memberitahu apa sebabnya ia melakukan hal-hal tersebut.

Dari ulasan cerita di atas, tampaknya ada perbedaan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam metode belajar-mengajar. Metode Nabi Khidir adalah muridnya tidak diperbolehkan bertanya apapun yang dilakukan oleh gurunya, sedangkan metode Nabi Musa adalah sang murid diperbolehkan bertanya. Nabi Musa menganut paradigma bertanya adalah dasar belajar, sedangkan Nabi Khidir menganut paradigma bahwa belajar itu adalah memperhatikan apa yang dicontohkan dan tidak usah bertanya.

Ya, kedua paradigma proses belajar mengajar itu disebutkan dalam Al Qur’an, sehingga kedua metode itu perlu dicermati kelebihan dan kekurangannya. Berdasarkan analisis tersebut kita akan dapat mengembangkan metode belajar-mengajar yang lebih efisien.

Di masa yang lalu, metode Nabi Khidir telah dipraktekkan selama ratusan tahun di Indonesia. Di masa itu, sang murid menerima begitu saja ajaran dan contoh sang guru tanpa bertanya satu patah katapun. Jadi, komunikasi yang digunakan adalah komunikasi satu arah. Guru memberi dan murid menerima. Guru memberi contoh dan murid mempraktekkan apa yang dicontohkan oleh sang guru. Dengan metode ini, telah tercipta sang guru yang berwibawa; sang guru yang dianggap mumpuni yang mempunyai ilmu yang tidak akan terlampaui oleh sang murid. Guru adalah tauladan langsung.

Di masa sekarang metode tersebut telah mulai ditinggalkan meskipun masih juga dipraktekkan dalam proses belajar-mengajar. Masa kini, guru adalah fasilitator. Guru tidak mutlak mempunyai ilmu dan informasi yang tidak dapat ditandingi oleh sang murid. Dalam metode ini justru dikembangkan agar sang murid bertanya, berpendapat dan bila perlu membantah argumentasi sang guru dengan argumentasi yang lebih kuat. Jadi, di masa kini proses belajar-mengajar yang dianggap  sesuai adalah komunikasi dua arah. Dengan metode ini, berarti guru bukanlah pusat perhatian dalam proses belajar-mengajar, tetapi hanya sebagai fasilitator. Pusatnya adalah sang murid itu sendiri.

Meskipun demikian, kedua metode itu masing-masing mempunyai kelebihannya masing-masing. Kita dapat menggunakan kedua metode itu sesuai dengan kondisi, ruang dan waktu yang berlaku. Sebagai guru, ada kalanya memang perlu menggunakan metode Nabi Khidir dalam arti guru memberi contoh dan murid meniru. Misalnya pada proses belajar-mengajar menulis huruf, berhitung dll sewaktu di TK dan SD. Ada hal-hal yang akan lebih berkesan di hati sang murid ketika sang guru langsung memberi contoh nyata dan sang murid hanya meniru tanpa bertanya. Kita tahu bahwa terlalu banyak bertanya juga dapat memberi kesan kurang baik bagi kita. Namun, ada kalanya kita memang perlu menggunakan metode belajar-mengajar ala Nabi Musa, yaitu bertanya kepada sang guru tentang sesuatu hal yang dirasa kurang pas. Disinilah akan terjadi dialog. Barangkali metode ini akan lebih tepat jika diterapkan pada proses belajar-mengajar orang dewasa. Saya percaya, bahwa kedua metode itu dapat diterapkan dalam proses belajar-mengajar di era global ini. Yang harus diperhatikan adalah kapan dan dimana kedua metode itu dapat diterapkan, dan kapan dan dimana kedua metode itu dapat dikombinasikan dan kapan dan dimana kedua metode itu sebaiknya digunakan secara terpisah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s