Masjid sebagai Kawah Cadradimuka

Masjid di zaman Nabi berfungsi di hamper semua bidang, antara sbb:

1)      Sebagai pusat Ibadah;

2)      Sebagai tempat bermusyawarah:

3)      Sebagai tempat memberi fatwa

4)      Sebagai tempat memutus perkara/ mengadili (mahkamah pengadilan)

5)      Sebagai tempat menyambut tamu atau utusan

6)      Sebagai tempat penjagaan dan pengembangan kehidupan social

7)      Sebagai tempat melangsungkan pernikahan

8)      Sebagai tempat pengobatan orang sakit

9)      Sebagai pusat latihan perang.

10)  Sebagai pusat pelayanan para dlu’afa . Sangat terkenal para pemuda dlu’afa yang disebut ahl as-suffah

11)  Tholabul Ilmy ( Pendidikan ), Pustaka

12)  Baitul Mal (Kas Negara untuk Kesra)

13)   Mengatur Siyasah / Kenegaraan

14)  Tempat bermu’amalah

15)  Pusat Pemberdayaan dan persatuan ummat, meningkatkan keimanan, ketaqwaan,     akhlaq mulia, kecerdasan umat.

16)  Fungsi masjib secara kelembagaan adalah untuk Membangun Manusia secara menyeluruh dalam rangka membangun Manusia yang Utuh dan Beradab.  Masjid berhasil mengubah dari “Masyarakat Jahiliah (yang biadab), menjadi Masyarakat Tamaduniyah (yang ber-peradaban) pada zaman Rasulullah.è

Bagaimana fungsi masjid saat ini? Fungsi masjid saat ini telah mengalami reduksi yang sangat signifikan. Pada zaman sekarang fungsi masjid mengalami reduksi dengan hanya memfungsikan masjib sebagai tempat sujud, tempat ibadah mahdhah saja, seperti shalat, zikir dan itikaf. Dalam pandangan Dr. KH. Miftah Farid, ketua MUI Jawa Barat, fungsi seperti itu menunjukkan bahwa masjid hanya dimaknakan secara sempit. Padahal masjid itu selain dipergunakan untuk ibadah kepada Allah juga dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa sosial, politik, ekonomi, ataupun kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya (http://bataviase.co.id).

Ada beberapa fungsi masjid yaitu:

1)   Sebagai tempat menyalatkan Jenazah dan tempat pemberangkatan Jenazah.

2)   Sebagai tempat (dilengkapi) pendidikan dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi

3)   Sebagai pusat perkantoran

4)   Pusat kajian dan pelatihan kader intelektual

5)   Sebagai tempat pertemuan dan resepsi

6)   Sebagai tempat menyampaikan informasi kepada masyarakat.

7)   Sebagai tempat pelayanan soaial

Sedangkan fungsi-fungsi lain telah digantikan oleh lembaga lain. Penyebab reduksinya fungsi masjid antara lain:

1)      Pemahaman masyarakat Ketakmiran yang belum mantap

2)      Mekanisme kerja takmir belum dilakukan secara professional

3)      manajemen masjid msh model ms lalu

4)      Dikhotomi peran masjid agama ansich

5)      Ada yg haramkan masjid untuk kegiatan-kegiatan non ibadah.

6)      Maraknya kemaksiyatan

7)      Keterbatasan perluasan peran dan fungsi yang dimiliki oleh masjid sendiri spt masjid perkantoran.

Kurang berfungsinya masjid secara maksimal di antaranya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang masjid. Selain itu, perhatian kita masih terfokus pada usaha pengadaan sarana fisik. Padahal, pemenuhan kebutuhan non-fisik untuk memakmurkan masjid seperti yang diperintahkan Allah dalam Al Quran, hingga saal ini masih relatif terabaikan.

Takmir Masjid dan Tugasnya

Takmir Masjid tgsnya memakmurkan masjid (at-Taubah :18). Langkah yang seyogyanya dilakukan adalah antara lain:

a) memperbaiki masjid;

b) memikat dan menarik hati masyarakat dan jama’ah dan mengikatnya dalam satu ikatan Jama’ah Masjid;

c)  pendaftaran atau pendataan anggota jama’ah;

d) Penataan organisasi dan pemberdayaan takmir masjid.

Pengurus masjid harus berusaha melibatkan seluruh jamaah masjid dalam menyukseskan program-program pemberdayaan umat yang dirancangnya. Program yang disusun melalui pelibatan ini akan menghasilkan program kegiatan bersama, sehingga ada rasa memiliki oleh semua pihak, dan juga muncul rasa bahwa semua diterima kehadirannya. Masjid bukan menjadi sebuah basis yang eksklusif bagi satu golongan tetapi menjadi inklusif untuk semua umat. Pelibatan ini juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan berbagai stakeholder yaitu masyarakat, remaja masjid, dan juga organisasi Islam, termasuk pemerintah, swasta, dan media.

Salah satu komponen penting dalam pengembangan masjid adalah Remaja Masjid. Remaja masjid menjadi penting untuk menghidupkan masjid karena sifat dasar dari remaja dan pemuda itu sendiri yaitu penuh ide kreatifitas dan inovasi. Sehingga kegiatan masjid akan lebih beraneka dan tidak monoton serta mampu menarik jama’ah dari kalangan muda. Yang tidak kalah penting adalah tujuan untuk kaderisasi, generasi muda yang cinta masjid kelak akan menjadi penerus sebagai pengurus masjid. Tidak hanya menjadi pengurus masjid, optimalisasi masjid untuk menghasilkan generasi cinta masjid diharapkan mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cinta masjid, seperti halnya sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Pengelolaan masjid juga harus mampu mengembalikan peranan masjid dalam mengatasi keterbelakangan umat, khususnya menanggulangi kemiskinan dan kebodohan. Sebagai langkah awal, masjid harus mampu menggali potensi zakat yang dipergunakan untuk program pemberdayaan umat. Potensi zakat umat Islam di Indonesia bisa mencapai Rp. 19,3 triliun per tahun. Sayangnya, potensi besar tersebut belum tergali dengan baik.

Untuk mengembalikan fungsi masjid dibutuhkan keahlian dan dilaksanakan secara maksimal sebagai implementasi dari dakwah bi ahsan al-‘amal (melakukan perubahan dengan mengerahkan segenap kemampuan). Dengan pemahaman
semacam ini, masjid dapat dimaknai sebagai instrumen atau sarana ibadah universal. Tidak hanya ibadah mahdhoh (mikro) saja, tetapi juga ibadah ghayr mahdhah (makro),  sehingga, masjid kembali lagi pada fungsinya sebagaimana
zaman Nabi Muhammad saw. dahulu, yaitu sebagai pusat pendidikan Islam yang berupaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang. Memahami masjid secara universal berarti juga memahaminya sebagai sebuah instrumen sosial masyarakat Islam yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Islam itu sendiri. Keberadaan masjid pada umumnya merupakan salah satu perwujudan aspirasi umat Islam sebagai tempat ibadah yang mendudukifungsi sentral. Mengingat fungsinya yang strategis, maka perlu dibina sebaikbaiknya, baik segi fisik bangunan maupun segi kegiatan pemakmurannya. Melalui pemahaman ini, muncul sebuah keyakinan bahwa masjid menjadi pusat dan sumber peradaban Islam. Melalui masjid pula, kaderisasi generasi muda dapat dilakukan melalui proses pendidikan Islam yang bersifat berkesinambungan untuk pencapaian kemajuan. Dengan demikian, pendidikan agama tidak cenderung mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) saja, melainkan ada aspek afeksi (rasa) dan psikomotorok (tingkah laku)).

sumber:

http://sururudin.wordpress.com/2010/01/02/masjid-sebagai-pusat-peradaban/

http://ensikloditya.blogspot.com/2011/01/fungsi-lain-dari-masjid-masjid-sebagai.html

http://sururudin.wordpress.com/2010/01/02/eningkatan-manajemen-pemberdayaan-masji/

http://sururudin.wordpress.com/2010/01/02/peningkatan-manajemen-masjid-melalui-kegiatan-tpa-majlis-taklim-tamaddun-dan-hbi/

http://lib.uin-malang.ac.id/?mod=th_detail&id=05110014 http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/10/16/optimalisasi-peran-masjid-sebagai-pusat-pemberdayaan-umat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s