Mengendalikan Hawa Nafsu

Topik Khutbah Jum’at tanggal 6 Juli 2012 adalah tentang mengendalikan hawa nafsu. Nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Kecenderungan ini secara fitrah telah diciptakan pada diri manusia demi kelangsungan hidup mereka. Sebab bila tak ada selera terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis lainnya niscaya tidak akan tergerak untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan biologis tersebut.Nafsu mendorongnya kepada hal-hal yang dikehendakinya tersebut. Sebagaimana rasa emosional mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya.

Jika pada hewan hawa nafsu hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mempertahankan hidup diri dan gerasinya, maka tidaklah demikian pada manusia. Keinginan hewan terbatas, maka keinginan manusia tak terbatas. Singa jika sudah kenyang meskipun ada sapi lewat tidak akan menerkam. Kalau manusia, meski sudah kenyang tetap saja terus menunpuk kekayaan. Untuk itu, hawa nafsu harus dikendalikan agar tidak menimbulkan dampak negative.

Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan oleh manusia dalam mengendalikan hawa nafsu, yaitu;

  • Tekad membara yang membakar kecemburuannya terhadap dirinya.
  • Sabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu.
  • Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan daripada kelezatan ketika menuruti kehendak hawa nafsu.
  • Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lezatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaanya daripada kelezatan kemaksiatan.
  • Hendaklah bergembira dapat mengalahkan musuhnya, membuat musuhnya merana dengan membawa kemarahan, kedukaan dan kesedihan! Karena gagal meraih apa yang diinginkannya. Allah azza wa jalla suka kepada hamba yang dapat memperdaya musuhnya dan membuatnya marah (kesal). Allah berfirman : Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan demikian itu suatu amal shaleh. (At-Taubah:120). Dan salah satu tanda cinta yang benar adalah membuat kemarahan musuh kekasih yang dicintainya dan menaklukannya (musuh kekasih tersebut).
  • Senantiasa berpikir bahwa ia diciptakan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu namun ia diciptakan untuk sebuah perkara yang besar, yaitu beribadah kepada Allah pencipta dirinya. Perkara tersebut tidak dapat diraihnya kecuali dengan menyelisihi hawa nafsu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s