MENGOMPROMIKAN HISAB DAN RUKYAT

Oleh: Agus Mustofa

Rakyat Bengkulu, 27 Juli 2012, hal. 1 & 11. Agar tafakur kita tentang penetapan awal Ramadan ini menghasilkan hikmah yang bermanfaat untuk umat, saya ingin memberikan usulan yang bersifat kompromistis dalam tulisan kali ini. Bahwa, penetapan ‘awal bulan’ Ramadan dan ‘awal puasa’ Ramadan sebaiknya dimaknai secara terpisah. Bagaimana maksudnya?

Sesungguhnyalah yang menyebabkan kebingungan umat dalam perbedaan ini adalah rancunya antara ‘awal bulan’ dan ‘awal puasa’. Awal bulan adalah permulaan ‘bulan baru’ yang ditandai oleh ijtima’ alias posisi segaris antara Bulan-Matahari-Bumi. Ini sebenarnya murni wilayah Astronomi alias ilmu Falak. Dimana kedua belah pihak yang berbeda memiliki kesepakatan yang sama. Bahkan sudah sama-sama pintarnya.

Kesamaan itu terlihat dari kesepakatan: bulan Syakban berakhir pada hari Kamis, 19 Juli 2012, pukul 11.25 wib. Tidak ada perbedaan dalam hal ini. Kalaupun ada, hanya berbeda tipis, dalam hitungan menit saja. Bukan jam, atau apalagi hari. Artinya, sudah ada pijakan yang sama dalam mendekati permasalahan. Kenapa bisa demikian? Karena, kesimpulan ini memang dibuat berdasar pada fakta posisi Bulan. Bukankah bulan tidak pernah berbohong? Dan, kita bisa sama-sama mengeceknya di angkasa. Inilah universalnya Sains, dalam hal ini Astronomi. Dilihat oleh siapa pun, dan dihitung oleh siapa pun hasilnya kurang lebih sama. Bahkan, jika yang melihat bulan itu adalah seorang non muslim sekalipun. Bedanya hanya dalam orde menit, atau bahkan detik disebabkan oleh metode penghitungan saja.

Perbedaan baru muncul, ketika mau menentukan kapan mulai berpuasa: Jum’at (20/7) ataukah Sabtu (21/7)? Sebenarnya ini sudah bukan wilayah Astronomi lagi, melainkan masuk wilayah Fikih. Wilayah Astronomi bersifat eksak, sedangkan wilayah Fikih bersifat lentur sesuai kondisi yang menyertainya. Dalam konteks penetapan awal Ramadan, fakta Astronomi yang eksak dan Fikih yang lentur itu jangan dicampur-adukkan. Karena, hasilnya akan sangat membingungkan.

Bagaimana Anda tidak bingung membaca pengumuman ini, misalnya. ‘’Semua lembaga yang berkompeten SEPAKAT bahwa bulan Syakban habis pada KAMIS, 19 Juli 2012, pukul 11.25 wib. Dan karena hilal tidak kelihatan, maka diputuskan dan ditetapkan bahwa 1 Ramadan 1433 H jatuh pada hari SABTU, 21 Juli 2012.’’

Secara fakta Astronomi kesimpulan semacam ini tidak memperoleh pijakan. Karena, Syakban adalah bulan ke-8 dalam penanggalan Hijriyah, dan Ramadan adalah bulan ke-9. Mestinya, tidak ada jeda hari antara Syakban dan Ramadan. Begitu Syakban habis, langsung masuk ke Ramadan. Lha ini, Syakban berakhir pada hari Kamis, tapi awal Ramadan jatuh hari Sabtu. Tidak heran, sejumlah kawan langsung me-SMS saya. Mereka bertanya: ‘’lho terus hari Jum’at itu ikut bulan Syakban, ataukah Ramadan, ataukah tidak punya Bulan, mas?’’

Logikanya memang menjadi ‘jumping’. Sangat sulit mencernanya. Apalagi ini wilayah ilmu Astronomi yang eksak, bisa langsung dicek ke angkasa. Logikanya, jika Kamis siang itu bulan Syakban sudah habis, sesaat kemudian sudah masuk bulan Ramadan. Jadi, bulan sabit yang kita rukyat pada Kamis sore itu sebenarnya adalah ‘hilal Ramadan’. Namun, karena usianya masih 6 jam, maka hampir bisa dipastikan hilal itu sulit dilihat oleh mata telanjang. Ya, memang demikian. Semua pihak yang berbeda pendapat pun pasti paham, bahwa hilal seumur 6 jam tidak mungkin terlihat. Sampai disini, semua sepakat.

Nah, perbedaan itu mulai muncul saat menentukan ‘awal puasa’. Ini sebenarnya sudah bukan wilayah Astronomi lagi, melainkan wilayah ilmu Fikih. Yang jika rujukan kondisinya berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Di wilayah Fikih inilah kita bisa memahami, ketika salah satu pihak memutuskan berpuasa di hari Jum’at, dan lainnya di hari Sabtu. Bagi yang berpedoman pada wujudul hilal, memutuskan permulaan puasanya Jum’at. Sedangkan bagi yang menganut ru’yatul hilal, memutuskan berpuasa Sabtu. Tidak ada masalah, karena rujukan Fikihnya sama-sama sahih.

Dengan demikian, pengumuman hasil isbat itu memiliki argumentasi Astronomi dan Fikih yang kuat dan tegas, sehingga umat tidak bingung dibuatnya. Jika diumumkan ke masyarakat luas, barangkali redaksinya menjadi begini:

‘’Sesuai dengan hasil perhitungan dan rukyat dari berbagai lembaga yang berkompeten, bulan Syakban sudah berakhir hari KAMIS, 19 Juli 2012, pukul 11.25 wib. Karena itu, Kamis sore ini bulan Ramadan sudah datang. Tetapi, karena ketinggian hilal masih sangat rendah, maka tidak ada yang berhasil merukyatnya. Oleh sebab itu, berdasar pada sunnah Nabi, pemerintah memutuskan dan menetapkan puasa Ramadan dimulai SABTU, 21 Juli 2012…’’

Clear. Secara Astronomi valid, dan secara fikih sah. Bahwa, lantas ada yang berbeda pendapat dengan pemerintah, dan memulai puasanya di hari Jum’at misalnya, tidak masalah. Sangat bisa dipahami, karena rujukan fikihnya juga jelas. Yakni, barangsiapa menyaksikan hadirnya bulan Ramadan hendaklah dia berpuasa QS. 2: 185. Astronomically, Jum’at itu memang sudah masuk 1 Ramadan 1433 H.

Dengan demikian, meskipun belum bisa sepakat bulat, setidak-tidaknya benang kusutnya sudah mulai terurai. Dan sudah memperoleh titik temu. Lebih bagus lagi jika urusan Astronomi, diserahkan saja ke LAPAN atau BOSCHA. Sedangkan urusan fikih dipisah, diserahkan kepada MUI. Dan menteri agama hanya tinggal membacakan kedua fatwa itu kepada masyarakat luas. Mudah-mudahan di tahun depan kita sudah bisa memperoleh solusi lebih baik. Karena, sungguh kita sudah sangat merindukan kebersamaan ini. Betapa indahnya, jika Ramadan dan Idul Fitri bisa bersama-sama dengan sahabat dan handai tolan..! Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s