Win win solution

Kultum shubuh tanggal 30 Juli 2012 mengambil tema win win solution. Penceramah mencontohkan ketika terjadi hajar aswad lepas dari tempatnya dan harus ditaruh ditempatnya kembali. Setiap kabilah merasa yang paling berhak, hampir saja terjadi perang. Adalah seorang yang paling disegani mencegah dan memberikan solusi bahwa yang berhak menaruh hajar aswad adalah mereka yang paling dulu masuk ke masjidil haram besok pagi.

Besok paginya yang paling dulu masuk ke masjid adalah Muhammad, maka diputuskan bahwa Muhammadlah yang berhak menaruh kembali hajar aswad. Muhammad kemudian menggelar sorbannya dan menaruh hajar aswad di sorban. Lalu ia memanggil semua kepala kabilah dan memegang sorban itu serta membawa ke dekat kabah, baru kemudian Muhammad mengambil hajar aswad dan menempatkan kembali di tempat semula. Semua puas. Inilah contoh win win solution.

Sayangnya dalam era demokrasi ini Indonesia tidak mengacu kepada hal ini. Demokrasi diaplikasikan dengan one man one vote, suatu demokrasi hasil borjuis yang notabene menekankan materi. Padahal Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri dalam berdemokrasi, yaitu pada sila keempat yang mendasarkan kepada ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijasaaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Disini yang ditekankan adalah hikmah bukan banyaknya orang. Itulah sebabnya, tidak muncul para pemimpin yang baik. Orang shaleh tersingkir dan yang menang adalah orang yang banyak uang. Hal inilah yang menjadi sebab terpuruknya pemerintahan di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s