Indikator Suksesnya Ramadhan

Khutbah Jum’at tanggal 31-12-2012 mengambil tema indikator suksesnya ramadhan. Puasa ramadhan yang baru kita jalani Insya Allah mendapat ridha Allah dengan diampuni dosa-dosa kita. Namun, ini adalah indikator yang abstrak, yang tidak bisa dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa indikator dalam kehidupan yang nyata tanda-tanda suksesnya puasa ramadhan, yaitu: 1) semakin mantapnya ketauhidan/ketaqwaan, atau paling tidak meningkat ketaqwaan kita; 2) memiliki akhlak yang baik atau lebih baik dari sebelumnya; 3) memiliki semangat menimba ilmu; 4) memakmurkan masjid; 5) memiliki solidaritas yang tinggi.

Itulah beberapa indikator suksesnya puasa kita. Mari kita coba evaluasi puasa kita.

Makna Fitrah dalam Islam

sumber lengkapnya: http://hendri-ippm-bw.blogspot.com/2009/08/kata-pengantar-puji-syukur-kami.htm

a) Makna Etimologi
Fitrah, menurut Ibn Faris dalam “Mu’jam Maqayis al-Lughah”, menunjukkan pada “terbukanya sesuatu dan melahirkannya”, seperti orang yang berbuka puasa. Berdasarkan makna dasar tersebut maka berkembang menjadi dua makna pokok; Pertama, fitrah berarti al-insyiqaq atau al-syaqq yang berarti al-inkisar (pecah atau belah). Arti ini diambil dari lima ayat yang menyebut kata fitrah yang objeknya ditujukan pada langit saja.
Kedua, fitrah berarti al-khilqah, al-ijad, atau al-ibda’ (penciptaan). Arti ini terdapat pada 14 ayat yang menyebut kata fitrah. Enam ayat di antaranya berkaitan dengan penciptaan manusia, sedangkan yang lain berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi.

b) Makna Nasabi
Pemaknaan fitrah dari makna nasabi diambil dari beberapa ayat dan hadits Nabi. Pada ayat dan hadits tersebut para mufassir sangat beragam dalam menentukan maknanya. Di antaranya adalah : Continue reading

Renungan Menjelang Senja

Dikisahkan seorang yang kaya raya merasa ajalnya sudah dekat. Ia kemudian memanggil keempat isterinya. Ia bertanya kepada isteri keempat maukah menemaninya pergi ke alam kubur. Sang isteri menolak. Sang suami kemudian bertanya kepada isteri ketiga, dan isteri ketiga menjawab bahwa ia akan menemaninya sampai nafas terakhir. Si suami mulai putus asa, ia kemudian bertanya kepada isteri keduanya, dan isteri kedua menjawab akan menemaninya sampai ke kubur. Iapun mulai putus asa. Dengan berlinang air mata ia bertanya kepada isteri pertama, dan isteri pertamapun menjawab mantap bahwa ia akan menemani sang suami ke alam kubur. Isteri pertama adalah amal shaleh, isteri kedua adalah keluarga, isteri ketiga adalah tubuh dan isteri keempat adalah harta.

Nah, mari kita beramal shaleh sebanyak-banyaknya karena Allah swt semata agar di dalam kubur kita ditemani oleh amal shaleh bukan amal kejahatan kita (Kultum subuh 10 Agustus 2012).

Tanda Tanda Khusyu’ dalam Shalat

Tanda-tanda khusyu’ dalam shalat antara lain: 1) ringan dalam menjalankan shalat; 2) disiplin waktu dalam shalat; 3) shalatnya terjaga syarat dan rukunnya, tumaninah dll; 4) terdapat tanda sujud/berseri pada wajahnya — ada yang memberi makna tanda sujud yang dimaksud adalah bahwa shalat mampu mencegah perbuatan keji dan munkar –; 5) selalu shalat berjamaah; 6) hanya mengharap ridla Allah; 7 terus menerus (Kultum tarawih 8 Agustus 2012)

PANDUAN I’TIKAF DI BULAN RAMADHAN

Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3127-panduan-itikaf-ramadhan.html

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ada suatu amalan di bulan Ramadhan yang mesti kita ketahui bersama demi meraih banyak pahala di bulan tersebut. Amalan tersebut adalah i’tikaf. Bagaimanakah tuntunan Islam dalam menjalankan i’tikaf  di bulan Ramadhan? Berikut panduan ringkas yang semoga bermanfaat bagi para pengunjung rumaysho.com sekalian. Semoga Allah senantiasa memberkahi.

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[1]

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”[2] Continue reading

Lailatul Qadar

Allah ta’ala berfirman.

Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar : 1-5]

“Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa bangun di malam-malam itu dengan dorongan mencari pahalanya, Allah Tabaaroka wa Ta’ala mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang berikutnya, ia terjadi pada malam ganjil; kesembilan, ketujuh, kelima, ketiga atau malam terakhir. Tanda-tanda lailatul qadar adalah malamnya yang terang seperti ada rembulan terbit, tenang, sunyi, tidak dingin, tidak panas, dan tidak dihalalkan bagi bintang-binatang untuk dilemparkan di malam itu hingga pagi. Dan di antara tanda-tandanya adalah di pagi harinya matahari terbit merata, pancaran cahayanya tidak menyilaukan, cahanya seperti bulan, dan tidak halal bagi setan untuk keluar di saat itu.” (HR. Ahmad no. 21702)

“Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Dan barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (HR. Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim no. 1268)

(Kultum subuh 5 Agustus 2012)

Mengambil Pelajaran dari Sejarah Bencana Masa Lampau

Kultum subuh tanggal 4 Agustus 2012 mengambil topik tentang mengambil pelajaran dari sejarah bencana masa lampau. Pada zaman rasul di masa lalu banyak terjadi bencana yang jauh lebih dahsyat jika dibandingkan dengan  bencana masa kini. bencana banjir dahsyat pada zaman Nabi Nuh, bencana gempa bumi pada zaman Nabi Luth dll begitu dahsyatnya. Secara umum bahwa bencana yang terjadi dikarenakan umat manusia pada zaman itu ingkar kepada Allah swt. Allah telah menerangkan di dalam QS. At Taubah {9}:70

“Belum datangkah kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu (kaum) Nuh, ‘Aad, Tsamud, Kaum Ibrahim, Penduduk Madyan, dan negeri-negeri (lainnya) yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rosul-rosul dengan membawa keterangan yang nyata. Maka Allah tidaklah sama sekali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

Oleh sebab itu, kita dapat mengevaluasi diri apakah bencana yang terjadi di Indonesia itu merupakan tanda-tanda mengenai keingkaran umat? Ataukah hanya merupakan bencana alam biasa. Yang jelas Indonesia memang berada dalam posisi pertemuan lempengan bumi yang secara otomatis merupakan daerah rawan bencana.