Ikhlas dalam Beribadah

(salah satu bahan kajian 30 September 2012)

Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amalan kecuali setelah terpenuhinya dua syarat yang sangat mendasar, yaitu:
1.    Amalan tersebut harus dilandasi keikhlasan hanya kepada Allah.
2.    Pelaksanaan amalan tersebut harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.
Secara bahasa, Ikhlas artinya membersihkan (bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri). Adapun secara istilah[2] yaitu: membersihkan hati supaya menuju kepada Allah semata, dengan kata lain dalam beribadah hati tidak boleh menuju kepada selain Allah.

Rasulullah SAW bersabda tentang sifat yang mulia ini: “Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, serta dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“. (HR.Tirmidzi). Continue reading

Advertisements

Bekerja adalah Ibadah

Topik khutbah Jum’at Tanggal 28 September 2012 adalah “bekerja itu ibadah”. Ibadah adalah segala aktivitas seorang muslim yang positif dari bangun tidur sampai tidur. Ibadah dapat dibagi menjadi 2 yaitu ibadah khusus (ritual) dan ibadah umum. Ibadah khusus contohnya seperti shalat, puasa di bulan Ramadhan, zakat, haji, dzikir dll. Ibadah khusus ini biasanya dilakukan secara rutin. Ibadah umum adalah aktivitas seorang muslim selain ibadah khusus seperti bekerja, belajar, berdagang, mengajar dll. Suatu aktivitas dapat dinyatakan mempunyai nilai ibadah dan akan memperoleh pahala di sisi Allah harus memenuhi 3 syarat, yaitu 1) ikhlas, 2) sungguh-sungguh, 3) halal. Jadi, ketika dosen mengajar, aktivitasnya akan mempunyai nilai ibadah jika diniatkan hanya karena Allah bukan karena yang lainnya. Oleh sebab itu, setiap aktivitas dianjurkan untuk berdo’a paling sedikit membaca “basmallah”. Niat yang murni inilah yang akan mengantar aktivitas kita menjadi bernilai ibadah. Dalam bekerja harus bersungguh-sungguh, tidak mudah putus asa. Allah menilai pekerjaan kita dari prosesnya bukan hasilnya. Jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin baru kita pasrahkan hasilnya kepada Allah. Syarat terakhir pekerjaannya itu halal, bukan hasil menyogok atau yang sejenisnya.

Hakikat Khalifah

Berikut beberapa  definisi khalifah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980), Ali Belhaj (1991), dan Al-Baghdadi (1995) :

Pertama, menurut Imam Al-Mawardi (w. 450 H/1058 M), Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 3).

Kedua, menurut Imam Al-Juwayni (w. 478 H/1085 M), Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam, hal. 15).

Ketiga, menurut Imam Al-Baidhawi (w. 685 H/1286 M), Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah, pemeliharaan hak milik umat, yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’, hal.225). Continue reading

Do’a Senjata Seorang Muslim

Khatib menegaskan bahwa semua do’a seorang muslim pasti dikabulkan meskipun terdapat beberapa perbedaan: 1) langsung dikabulkan; 2) dikabulkan melalui proses terlebih dahulu; 3) atau diganti dengan yang lain.

Mengapa do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah? Ada beberapa sebab antara lain: 1) kita tidak/belum memenuhi hak Allah. Apa hak Allah? Hak Allah adalah untuk disembah dan tidak dipersekutukan; 2) kita mengaku mencintai Rasulullah tapi kita tidak/belum menjalankan perintah Rasul dan menjauhi larangan Rasul; 3) kita membaca dan memahami Al Qur’an tapi tidak kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Marilah kita selalu berdo’a sebagai wujud dari cerminan keimanan kita. Mereka yang tidak pernah berdoa kepada Allah, maka tanpa terasa akan menjadi sombong, merasa tidak bergantung kepada Allah. Padahal kita adalah makhluk yang lemah, yang selalu membutuhkan pertolongan Allah swt.

Pemimpin Idaman Umat

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh aku ingin menghadap ALLAH subhanahu wa ta’ala dan tidak seseorang pun yang menuntut (haknya) kepadaku, karena kezaliman (niscaya akan aku penuhi). Maka, siapa saja yang merasa hartanya pernah aku ambil (dengan cara zalim), inilah hartaku, ambilah. Dan siapa saja yang belakangnya pernah aku rotan (dengan cara zalim), ini belakangku, balaslah.” ungkapan baginda Nabi suatu ketika. Dan ketika ada seorang wanita mencuri, karena wanita itu merupakan wanita bangsawan, muncul tuntutan sekelompok orang supaya hukumannya digugurkan agar tidak menjatuhkan kewibawaannya. Dengan marah Nabi menjawab: “(Jangankan wanita ini) kalau saja Fatimah binti Muhammad mencuri, tentulah aku akan memotong tangannya.” (HR.Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Imam itu adalah perisai, yang akan menjadi pelindung bagi orang yang ada di belakangnya. Orang akan berperang dibawah komandonya.” (HR.Muslim) Continue reading

Mempertahankan Ketaatan

Khutbah Jum’at tanggal 14-9-2012 mengambil topic “mempertahankan ketaatan setelah Ramadhan”. Selama Ramadhan kita digembleng/dilatih untuk meningkatkan ketaqwaan dan ketaatan. Kita dilatih untuk giat berbuat kebaikan, peduli terhadap fakir miskin dan lain-lain. Ketaatan dan ketaqwaan yang telah dilatih selama Ramadhan perlu dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Beberapa hal yang perlu dilakukan agar kegiatan selama Ramadhan tetap bisa dipertahankan antara lain adalah: 1) giat berbuat kebaikan dari bangun tidur sampai tidur; 2) bangun di malam hari untuk beribadah; 3) bertaubat di akhir malam/bertaubat paling sedikit dengan ucapan dan lebih baik lagi jika melakukan shalat taubat; 4) membelanjakan sebagian hartanya untuk fakir miskin, dakwah dll. Pada khutbah kedua, khatib mengingatkan kepada jama’ah untuk tetap saling memberi nasehat dan sabar dalam kebenaran dengan membaca surat Al Asr.

Halal Bi Halal

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiyâ’ [21]:107)

Rasulullah Saw. bersabda:  “Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang memiliki kasih sayang.” “Dan kami adalah orang-orang yang memiliki kasih sayang, ya Rasulullah,” jawab seorang sahabat. Rasulullah melanjutkan sabdanya:  “Bukan dalam makna seorang dari kamu menyayangi seorang sahabatnya yang lain. Sesungguhnya rahmat Allah itu diperuntukkan bagi orang yang mengasihi seluruh manusia.”

Silaturahmi adalah sebuah komunikasi tinggi yang dilandasi iman, tidak bermotif bisnis (yang hanya akan mengambil keuntungan dari pihak yang dikunjungi). Silaturahmi adalah sebuah komunikasi yang bertujuan ingin mengetahui kesehatan kawannya, bagaimana keadaan ekonominya, bagaimana keamanannya, sehingga apabila mereka dalam keadaan yang perlu dibantu, pelaku silaturahmi ikhlas mengulurkan hasil prestasi hidupnya. Inilah yang disebut komunikasi tinggi dalam bersilaturahmi: tidak hanya berjumpanya dua orang atau tiga orang dalam konteks minta maaf, tetapi juga saling menjenguk keberadaan, kesehatan, prestasi hidup mereka—boleh jadi sedang dalam keadaan stagnan—maka mereka yang kuat dengan senang hati menolong yang lemah.

Dengan demikian, silaturahmi merupakan intisari dari budaya Islam; buah dari semua ibadah yang ada di dalam Islam. Shalat, puasa, dan haji akan membuahkan silaturahmi. Tentu saja apabila shalatnya telah menyadarkan dirinya sebagai hamba Allah, puasa yang dilakukan hanya untuk mendapatkan ridha Allah, dan haji yang ditunaikan berorientasi pada amrullâh. Continue reading