MAKNA IKHLAS

Oleh: Wiryono

Ikhlas berasal dari kata khalasha,yakhlushu,  khulushaa,khaalishatan, yang artinya To be pure, unmixed, free, retire atau  murni, tidak tercampur, bebas, pensiun. Pengertian Ikhlas itu sendiri terangkum dalam surat Al Ikhlas. Berdasarkan pengertian kata dan makna surat Al Ikhlas, maka ikhlas itu berarti memurnikan keesaan Allah; hanya kepada Allah swt kita beribadah; hanya kepada Allah kita bergantung; hanya keridhaan Allah swt yang kita cari. Makna ikhlas juga termuat dalam ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:

Hanya kepadaMU kami beribadah dan hanya kepadaMU kami meminta pertolongan (Al Fatihah ayat 5).

!Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah, mengikhlaskan agamaNYA, memusatkan perhatian hanya padaNYA, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Inilah agama yang paling benar. (Al Bayyinah: 5; terjemahan oleh Maududi)).

Katakan, Dialah Allah yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Dan tidak sesuatupun yang setara denganNya (AL Ikhlas, 1-4).

“Yaitu orang yang memberikan hartanya untuk membersihan (diri). Dan tidak ada seorangpun yang memberinya kenikmatan untuk dibalas, melainkan (dia memberikan harta) semata-mata mencari keridhaan Tuhannya yang mahatinggi (Al Lail 18-20

Sesungguhnya kami memberimu makan untuk mencari keridhaan Allah swt, tidaklah kami menginginkan balasan darimu dan tidak pula terimakasih (Al Insaan: 9).

Segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh alam. (Al Fatihah: 2).

 

Mencari keidhaan Allah: Bagaimana implementasinya?

KALAU SEORANG ANAK RAJIN BEKERJA DAN BELAJAR UNTUK MENYENANGKAN ORANG TUANYA, APAKAH INI TERMASUK PERBUATAN IKHLAS?

KALAU KITA BEKERJA UNTUK MENCARI UANG, APAKAH INI IKHLAS?

KALAU MAHASISWA MENGERJAKAN TUGAS AGAR DOSENNYA SENANG, APAKAH INI IKLHAS?

KALAU SEORANG KARYAWAN RAJIN BEKERJA UNTUK MENYENANGKAN ATASANNYA, APAKAH INI IKLHAS?

KALAU SUAMI BERBUAT UNTUK MENYENANGKAN ISTERINYA, APAKAH INI IKHLAS?

Dalam ajaran  Islam hubungan dengan Allah swt tidak terpisahkan dengan hubungan sesama manusia. Keridhaan Allah tidak terpisahkan juga dengan keridhaan manusia.  Orang tidak akan memperoleh keridhaan Allah dengan shalat malam setiap hari, puasa senin kamis setiap minggu, kalau dia selalu merugikan tetangganya, temannya sekantor dan orang lain yg berhubungan dengannya, sehingga dia dibenci (tidak diridhai) orang banyak.

MENYENANGKAN ORANG TUA, MENCARI KERIDHAAN ALLAH

Hadits: Ridha Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemarahan Allah swt tergantung pada keridhaan keduanya.

Menyenangkan orang tua berarti mencari ridha Allah swt (selama tidak mengajak kepada kemusryikan, kekafiran, kemaksyiatan).

Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada kedua orang tuanya (Al Luqman: 14).

BEKERJA MENCARI NAFKAH, MENCARI KERIDHAAN ALLAH

(syarat: bekerja secara halal, menginfaqkan sebagian dari rejekinya, membayar zakat)

Dan jika shalat telah dikerjakan, maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan banyaklah mengingat Allah agar kamu beruntung (Al Jum’ah : 10).

Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as,selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Dan infaqkanlah sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepadamu (Al Munafiqun: 10).

MENOLONG (MENYENANGKAN) ORANG LAIN, MENCARI KERIDHAAN ALLAH

“Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya…. (HR. Muslim)

Untuk mendapatkan keridhaan Allah, kerjakan yang Allah sukai dan hindari yang Allah tidak sukai.

Dan berbuat baiklah. Sungguh Allah mencintai orang yang berbuat baik (Al Baqarah 195).

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang bersih (Al Baqarah: 222).

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa (Ali Imran: 76).

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal (Ali Imran: 159).

Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar (Ali Imran: 146)

LAWAN DARI IKHLAS: MENSEKUTUKAN ALLAH, BERGANTUNG PADA SELAIN ALLAH, MENCARI KERIDHAAN SELAIN ALLAH (RIYA)

Celakalah orang yang shalat, yaitu mereka yg lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya’ (Al-maa-uun: 4-6)

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah syirik ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “ Riya’.” (HR. Ahmad)

Ciri-ciri Riya

Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya allah yang Maha Suci dan Maha tinggi pada hari qiyamat turun kepada para hamba untuk mengadili mereka, dan setiap umat itu berlutut. Orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang mengumpulkan (hafal) al Quran, orang yang terbunuh di jalan Allah dan orang yang berharta banyak.
Allah berfirman: kepada Qari’: “bukankan AKU ajarkan kepadamu sesuatu yang AKU turunkan kepada utusanKU?” ia menjawab: “Ya, wahai tuhanku”. DIA berfirman: “Apakah yang kamu amalkan dalam apa yang kamu ketahui?”. Ia menjawab: “Saya selalu melaksanakannya tengah malam dan tengah hari”. Allah berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Namun kamu menghendaki untuk dikatakan: “Sesungguhnya fulan itu qari’, hal itu telah diucapkan”
Orang yang berharta didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “Bukankan AKU telah memberi kelapangan kepadamu sehingga AKU tidak membiarkan kamu membutuhkan kepada seseorang?” Ia berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. DIA berfirman “Apakah yang kamu kerjakan dalam harta yang AKU berikan kepadamu?” Ia menjawab: “Saya bersilaturahmi dan bersedekah”.Allah berfirman: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah Ta’ala berfirman: “Tapi kamu ingin dikatakan: “Fulan itu dermawan, dan itu telah diucapkan”.
Orang yang terbunuh di jalan Allah didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “karena apakah kamu terbunuh?’ Ia menjawab: “Saya diperintah untuk berjuang di jalanMU, maka saya berperang hingga saya terbunuh:. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya; “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Tetapi kamu berkeinginan untuk dikatakan: “Fulan itu pemberani, dan itu telah diucapkan”.
Kemudian rasulullah menepuk dua lututku seraya bersabda: “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itulah makhluk Allah yang pertama kali dibakar oleh api neraka pada hari Qiyamat”
Pergeseran Makna Ikhlas

Dalam Bahasa Indonesia kata ihklas mengalami pergesaran makna. Kata ikhlas sering digunakan dengan makna SUKA RELA, TIDAK KEBERATAN.

Misalnya: Menyumbang sedikit tidak apa-apa asal IKHLAS.

Penggunaan kata IKHLAS dengan makna TIDAK KEBERATAN menyimpang dari arti aslinya.

Untuk mencari ridha Allah kadang kita melakukan kewajiban dengan berat hati.

Contoh: Abu Bakar pada awalnya menolak diangkat sebagai khalifah. Tetapi karena mayoritas tokoh masyarakat mendesaknya, dengan berat hati dia terpaksa mengemban amanah yang berat tersebut. Kasus yang sama terjadi pada Umar.

Kita wajib membayar zakat jika harta kita telah mencapai nisab, dengan sukarela atau dengan berat hati.

Kita diperintah berinfaq dengan harta yang baik, yang kita cintai (barang bernilai tinggi, uang yang banyak [relative]). Memberikan harta yang masih kita cintai tentu terasa berat, perlu perjuangan untuk melaksanakannya.

Memberikan harta yang tidak kita cintai (barang bernilai rendah, uang sedikit relative]) bukan termasuk kemuliaan.

Al Baqarah: 267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Ali Imran 92. kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Kesimpulan

Orang ikhlas hanya beribadah pada Allah swt, tidak mensekutukannya. Orang ikhlas hanya menggantungkan nasibnya pada Allah swt, bukan pada yg lain. Orang ikhlas hanya mencari keridhaan Allah, bukan pada yang lain. Tetapi keridhaan Allah swt hanya akan kita peroleh jika kita berbuat baik pada manusia dan alam sekitarnya. Orang ikhlas tidak mencari pujian manusia, karena segala puji hanya milik Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s