SUDAH BERIMANKAH KITA???????

Oleh: Hasanuddin

Kalaulah kita menganalisa situasi dewasa ini, maka kita akan merasa kebingungan, puasa yang dilakukan tidak berdampak positif terhadap pola pikir, pola tindak dan cara kita hidup dalam berbangsa dan bernegara. Puasa bukannya menjadikan kita bertambah baik sesuai dengan yang diharapkan  menjadi orang yang bertaqwa (AL Baqarah ayat 183) malahan senantiasa bertambah bobrok, sangat jauh dari kesejahteraan yang adil dan merata. APBN konon katanya habis digunakan para”elite” untuk sogok menyogok pemilihan, memperkaya diri, keluarga beranak pinak, sanak saudara, kerabat, dengan berbagai cara-cara penipuan, alhasil hukum yang seharusnya melindungi rakyat jadi tajam kebawah tumpul keatas. Puasa hanyalah sekedar perulangan dari tahun ke tahun, terhadap pelonjakan harga, mulai dari sembako sampai ke tiket, peningkatan angka kecelakaan lalin dengan alasan mudik, peningkatan angka kriminalitas dengan alasan berlebaran tidak ada uang. Seribu satu fenomena akibat puasa Ramadhan yang semuanya ini bukan berdampak kepada perbaikan hidup.

Kita berpuasa sudah berpuluh-puluhan kali, bangsa ini semenjak merdeka sudah berpuasa Ramadhan 66 kali, jauh lebih banyak dari yang dilakukan Nabi. Nabi berpuasa Ramadhan hanya 7 kali, kalau kita tinjau sejarah, puasa disyariatkankan Nabi tahun ke 3 Hijrah, Nabi wafat tahun 10 Hijrah, hanya 7 kali tapi terbukti sanggup membentuk masyarakat madani, bandingkan dengan kita bukannya masyarakat adil dan makmur yang terbentuk malahan kita berada dibibir jurang kehancuran.

Dari surar Albaqarah ayat 183 jelas yang dipanggil untuk melaksanakan puasa adalah mereka-mereka yang sudah beriman. Iman adalah pondasi utama dari berbagai ibadah yang dilakukan, kalau yang melakukan puasa, mereka yang telah beriman, dipastikan Allah, puasanya berdampak positif terhadap berbagai cara hidup dan kehidupan mereka.

Maka perlu dipertanyakan apakah  kita sudah beriman? Apakah bangsa ini sudah beriman? Kalaulah menurut almarhum KH Zainuddin MZ iman kita adalah iman bongkar pasang, kalau didalam masjid kita beriman, keluar masjid iman kita, kita lepas, mulai dari sandal jepit sampai ke uang dolar, kita embat diberbagai kesempatan,tidak di pasar, di kantor, di perusahaan, semuanya kita libas, akibat iman kita sudah lepas.

Kita mengaku bahwa kita adalah orang yang beriman. Kalau ditanya apa itu iman, iman adalah percaya. Mana yang lebih percaya kepada Allah Syetan dari pada kita, tentu saja Syetan, kenapa demikian karena Syetan bisa berdialog langsung dengan Allah, kita tidak pernah berdialog secara langsung dengan Allah. Kalaulah definisi iman itu percaya, maka Syetan lebih beriman dari pada kita manusia. Kalau begitu apakah iman itu? Menurut Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah iman itu adalah tambatan hati, yang bergema kesepenjuru ucapan, yang diamalkan dalam setiap laku perbuatan. Jadi seseorang yang beriman adalah mereka yang hatinya Alquran, ucapannya Alquran dan perbuatannyapun Alquran.

Disana tidak ada gunung, disinipun tidak ada gunung, yang penting lebaran makan lamang tapai.  Disana jangan bingung, disinipun juga jangan bingung, yang penting iman harus digapai.

Mudah-mudhan kita akan bertemu lagi pada episode “bagaimana cara menggapai IMAN ?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s