Membantu yang Lemah Itu Ibadah

(Salah satu bahan kajian minggu pagi tanggal 18 Nopember 2012)

Definisi Ibadah
Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk.
Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta’ala , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan.
Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dazariyat: 56-58)

Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkannya; karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari’atNya.

Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari’at-kanNya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari’atNya, maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah).

Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar-syi’ar yang biasa dikenal.

Jenis-jenis Ibadah

1. Ibadah Khassah (khusus)
Adalah Ibadah yang teknik pelaksanaannya telah diatur secara rinci oleh Nabi.
Syaratnya:
Kemampuan keras/tekad yang kuat : mencurahkan segala kemampuan dan kemampuan untuk melaksanakan Ibadah, dan niat yang ikhlas (Q.S. 39 : Az Zumar : 11) (Q.S. 39 : Az Zumar : 14) (Q.S. 85 : Al Buruuj : 5) serta Ittiba (Q.S. 3 : Ali Imran : 31) (Q.S. 7 : Al A’raaf : 157)

2.Ibadah ‘Ammah (Umum)
Adalah Ibadah yang teknik pelaksanaannya tidak diatur secara rinci oleh Nabi, kita diperbolehkan melakukan kreatifitas.
Syaratnya:
Kemauan keras/tekad yang kuat : mencurahkan segala kemampuan dan kemampuan untuk melaksanakan ibadah, dan ikhlas: Maslahat (Q.S. 103 : Al “ashr : 1-3)

Menolong Kaum yang Lemah & Terzhalimi Itu Ibadah

Jika membaca pengertian ibadah di atas, maka membantu yang lemah dan terzhalimi itu adalah ibadah. Dari bin Malik Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ
‘Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau dizhalimi”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, orang yang dizhalimi jelas akan kami tolong, akan tetapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?” Beliau bersabda, “Pegang tangannya (agar tak berbuat zhalim) “. (HR. Al-Bukhari no. 2444)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَلْيَنْصُرْ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ
“Hendaklah seseorang menolong saudaranya yang berbuat zhalim atau yang sedang dizhalimi. Apabila ia berbuat zhalim, maka cegahlah ia utk tak berbuat kezhaliman karena itu berarti menolongnya. Dan apabila ia dizalimi, maka tolonglah ia.” (HR. Muslim no. 2584)
Jabir bin Abdillah & Abu Thalhah bin Sahl Al-Ashari radhiallahu anhuma keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَهُ
“Tidaklah seseorang menelantarkan seorang mukmin pada suatu tempat yang kehormatannya terampas & harga dirinya terlecehkan, melainkan Allah akan menelantarkannya pada suatu tempat dimana ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim yang berada pada suatu tempat yang kehormatannya terampas & harga dirinya terlecehkan di dalamnya, melainkan Allah akan menolongnya pada suatu tempat dimana ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya.” (HR. Abu Daud no. 4484 & dinyatakan shahih oleh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami’ no. 5690)

Penjelasan ringkas:
Allah Ta’ala memerintahkan utk menolong orang yang lemah lagi terzhalimi, berdiri di sisinya utk melawan orang yang menzhaliminya. Hal itu karena kezhaliman merupakan suatu kemungkaran, sementara merubah kemungkaran adalah hal yang wajib bagi siapa saja yang sanggup utk melakukannya sesuai dgn kemampuannya. Dan Allah Ta’ala menjanjikan kepada siapa saja yang membela saudaranya pada keadaan dia membutuhkan pembelaan, niscaya Allah Ta’ala juga akan membela & menolongnya pada keadaan dimana dia sangat membutuhkan pertolongan dari Allah.

Membantu ekonomi keluarga fakir & miskin dengan membantu menciptakan pekerjaan bagi mereka dengan dana zakat juga merupakan kegiatan membantu yang lemah. Ini merupakan salah satu implementasi zakat yang dilakukan untuk membantu bagaimana masyarakat miskin (kaum dhuafa) dapat keluar dari kemiskinannya, dengan harapan penyaluran zakat tersebut dapat memperbaiki tingkat pendapatan ekonomi keluarga mustahik.

Beberapa hal  yang merupakan kegiatan membantu yang lemah antara lain:

1. menolong korban bencana alam
2. Menolong korban bekas perang
3. Menolong anak-anak yatim-piatu
4. Menolong keluarga miskin
5. meyediaan beasiswa untuk anak-anak yang berprestasi namun kurang mampu.
6. Menjalankan misi kemanusiaan hingga ke pedalaman.
7. Dan misi kemanusiaan lainnya.

Sumber Bacaan:

1)       http://belajar-tauhid.blogspot.com/2005/05/ibadah-pengertian-macam-dan-keluasan.html

2)       http://salafy-indonesia.web.id/menolong-kaum-yang-lemah-dan-terzhalimi-kami-tolong-280.htm

3)      http://ilmugreen.blogspot.com/2012/06/pengertian-dan-jenis-jenis-ibadah.html

4)       www.al-atsariyyah.com tags: Kami Tolong, Bin Malik,

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s