Menghitung Diri

Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung!!!!!!

Sebelum kita masuk ke topik Menggapai Iman, perlu kita sadari untuk mengevaluasi diri terlebih dahulu bahwa perjalanan hidup ini sudah sampai dimana. Jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahu-tahu umur kita sudah sampai saja dipenghujung perjalanan. Bagaimana cara menghitung antara kebaikan dan keburukan yang kita lakukan dari hari kehari. Hal ini tak bedanya dengan cara debet dan kredit, kalu kita tidak mawas diri maka kebangkrutanlah yang kita dapati.

Kita sering kali disilaukan oleh pendapat para da’i kalau kita bertaubat kita akan diampuni, dan segala dosa kita akan dihapuskan, dan kita akan dimasukkan kedalam sorga, kita akan kembali fitrah, fitrah itu apa? Fitrah itu adalah suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Maukah anda-anda seperti bayi? Bayi yang tidak tahu apa-apa, TIDAK ADA KEBAIKAN DAN TIDAK ADA PULA KEBURUKAN padanya. Jadi fitrah itu apa? Fitrah itu adalah NOL.

Karena kesalahan para pendakwah dan kesalahan kita, yang hanya menyerahkan urusan BERISLAM pada para ustad, kiyai ataupun buya, sehingga kita terjerembab kedalam lobang buaya. Selagi ada kesempatan gunakan, korupsilah sebanyak-banyaknya nanti kita akan bertaubat, berapapun besarnya dosa kita toh ALLAH juga akan mengampuni, kapan perlu, kita pergi ketempat-tempat yang do’a kita bisa diijabah, seperti berdo’a di depan Ka’bah. Dosa-dosa kita akan habis! Inilah pendapat yang menyesatkan, yang memberi ganjaran dosa ataupun pahala adalah ALLAH. Itu adalah pekerjaan ALLAH kok kita ikut campur dengan urusan ALLAH. Urusan kita selaku manusia tidak dikerjakan dengan baik sesuai dengan persepsinya ALLAH.

Kalau memang dosa kita akan habis mau dikemanakan Surat Al Zalzalah ayat 7-8. Sebesar zarrah sekalipun kebaikan atau keburukan yang dibuat akan diperhitungkan ALLAH

PERTANGGUNGAN JAWABAN
Mengenai pertanggungan jawab perbuatan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat, setiap hamba tak akan melangkah sebelum ditanya empat hal, yaitu tentang umur untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan (kesehatan) badannya untuk apa ia pergunakan.” (HR Tirmidzi, hadits hasan shahih, dan teks ini menurut riwayat Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s