KEBANGKITAN ISLAM AKAN MUNCUL DARI MELAYU

Banyak asumsi bahwa kebangkitan Islam akan terjadi dari Timur. Tetapi belahan timur yang mana. Azra, dalam seminar Jaringan Melayu Antar Bangsa—menjelaskan ; wilayah timur tersebut adalah wilayah yang mayoritas ber-etnis Melayu. Landasan akar sejarahnya telah membuktikan, bahwa Islam sebagai agama telah melembaga di masyarakat dan beberapa pemerintahannya (raja atau sultan). Dan kini, ketika rumpun Melayu sadar akan posisi cultural, politik, dan ekonominya, dari sanalah islam menjadi penguat sebagai pembangkit bagi korelasi kebangkitan Islam yang akan muncul dari Melayu.

Azra, menjelaskan bahwa Islam di Melayu diakui sebagai salah satu wilayah kebudayaan yang cukup berpengaruh dari tujuh wilayah kebudayaan yang ada di dunia. Wilayah kebudayaan islam itu, pertama adalah wilayah kebudayaan Arabia dan daerah-daerah Madrid, Afrika utara, dan sebagainya. Wilayah kebudayaan yang kedua adalah Persia, Iran, dan sebagian wilayah Asia Tengah, yang dalam unsur kebahasaannya dipengaruhi oleh bahasa Persia, dan dalam unsure-unsur kebudayaannya banyak diwarnai oleh kebudayaan Persia. Wilayah kebudayaan yang ketiga adalah wilayah kebudayaan Turki dengan wilayah strategi di Eropa Timur; seperti Bosnia, Kosoko, dan daerah sekitarnya.wilayah kebudayaan yang keempat, adalah wilayah kebudayaan Indo-Pakistan, India dan Bangladish adalah dengan wilayahnya India, Bangladish di samping Pakistan itu sendiri. Wilayah kebudayaan yang kelima, adalah wilayah kebudayaan Afrikanistan yang mencakup wilayah kebuadayaan Madrit (Spanyol), Praha, Nigiria dan sebagainya. Wilayah kebudayaan yang keenam adalah wilayah kebudayaan Indoneisia-Melayu. Dan Terakhir, ketujuh adalah wilayah kebudayaan di bagian belahan dunia barat.

Dari masing-masing culture area (daerah kebudayaan) ini meskipun sama-sama berbendera Islam, tetapi mempunyai ciri budaya yang sangat distingtif, artinya bahwa masing-masing wilayah kebuadayaan mempunyai kekhasan masing-masing. Dalam hal ini adalah sebuah kebudayaan yang tidak bisa disebandingkan dengan negera-negera lainnya yang sama-sama dalam kerangka wilayah kebudayaan Islam. Dari sinilah kita bisa melihat perbedaannya antara kebudayaan Islam di Arab dan kebudayaan Islam di Melayu. Begitu juga dengan wilayah kebudayaan Islam di Turki atau di Rusia yang mempunyai karakter dan perbedaan masing-masing yang cukup distingtif.

Telinga kita mungkin sering mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang bahwa kalau masing-masing wilayah kebudayaan yang secara riil memang beda, apakah ini tidak mempengaruhi tingkat kemurniaan keislamannya ? dalam proses ini Islam di dunia baru sering disebut sebagai Islam periferal (pinggiran). Dalam hal ini, Islam di dunia Melayu sering disebut sebagai Islam pikiran, artinya bahwa kedewasaan Islam di Melayu tidak murni lagi. Dengan pengertian lain bahwa Islam di Melayu ini berasal dari berbagai sudut kebudayaan yang melingkupinya sehingga seolah-olah Islam hanya menjadi bagia dari kebudayaan tersebut, dan pengikut ajaran ini akan begitu mudah mencapur adukkan antara Islam dengan dunia perdukunan, atau hal-hal yang berbeda di luar kekuatan manusia (ghaib). Jadi Islam murni yang juga percaya kepada alam yang berada di luar kesadaran manusia.

Ada penelitian yang mencoba mengupas atau menjawab dari persoalan persoalan ini. Salah satu penelitian yang penting dan sangat monumental adalah sebuah penelitian yang mencoba menguji apakah ketidak murnian Islam sebagai agamanya itu karena mereka sering pergi ke dukun, ke kuburan, dan lain sebagainya itu. Adalah suatu cirri distingtif, yang khas bagi Islam di Melayu dan tidak terdapat di Timur Tengah, di wilayah kekuasaan ataupun kebudayaan Arab. Beberapa penelitian di Asia Tenggara, dan juga di Timur Tengah serta beberapa tempat lain di Iran, menunjukkan bahwa ada beberapa kesimpulan yang perlu diambil  yaitu, seperti misalnya beberapa Muslim pergi ke dukun lalu melakukan praktik-praktik bakhil atau khurafat. Hal serupa di Timur Tengah juga dilakukan praktik-praktik seperti itu, yang mungkin lebih kuat lagi dalam menganut kepercayaannya. Sama seperti penayangan film-film yang paling laris di Indonesia misalnyaNyi Roro Kidul atau Sunan Kalijaka. Maka film-film yang laris di Kairo juga film-film seperti itu, yaitu sebuah budaya mistis berbau tenung, tahayul dan sebagainya. Kita tidak bias lagi mengatakan bahwa Islam di dunia Melayu itu lain.

Sebagai Islam yang periferal dari segi ajaran dapat dikatakan bahwa Islam di dunia Melayu adalah Islam yang tegar bahkan boleh dikatakan Islam yang damai, ramah dan toleran, sehingga disebut “singkretis” oleh karena itu kemudian kemurnian keislamannya diragukan lagi. Maka yang terjadi kemudian adalah bahwa Islamnya yang paling murni adalah Islam Timur Tengah. Penelitian yang dilakukan oleh Syaifuddin bahwa ukuran-ukuran (asumsi-asumsi) selama ini menunjukkan bahwa Islam di Melayu adalah Islam periferal dalam suatu ajaran, artinya bahwa tidak bisa dipertahankan lagi apalagi dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dari tujuh akar kebudayaan Islam itu diikat oleh sebuah hegemoni bahasa Arab. Begitu juga dengan Serbia atau Turki. Meskipun dengan kasus selanjutnya Afrika tidak termasuk dalam mainstream ini. Dengan adanya bahasa yang beraneka ragam, dengan bahasa yang paling popular adalah bahasa Suadini. Meskipun oleh sebagian orang Afrika bahasa ini tidak banyak digunakan oleh kaum Muslimin di Afrika. Tetapi tetap menjaadi unsure penyatu di dalam pembentukan wilayah dari tujuh akar kebudayaan yang dimaksud. Di samping itu yang menjadi factor pilihannya adalah apa yang disebut dengan tradition cultur, di mana tradisi kebudayaan Arab yang berbeda dengan budaya Melayu yang menjadi kunci dari kebudayaan Islam untuk mencapai tahap-tahap perkembangan selanjutnya. Yang memungkinkan dari adanya ketidak seragaman ini menjadi bukti bahwa Islam tetap utuh dalam mengentaskan ajaran-ajarannya, sehingga yang terjadi kemudian pada wilayah kebudayaan dunia Melayu itu lebih dari hanya sekedar persamaan bahasa, kesamaan tradisi, tetapi bisa dikatakan sebagai kesamaan pengalaman histories, terutama ketika sebelum kedatangan penjajah dalam hal ini kolonialisme Belanda. Itu pengalaman renaissance di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan atau kerajaan-kerajaan yang terdapat di berbagai wilayah Nusantara ini.

Jadi kalau kita berbicara tentang karakteristik keagamaan maka kita bias melihat karakter apa sebenarnya yang ada di seputar kebudayaan Islam Melayu ini. Terutama yang menonjol sebagai karakter keagamaan di sini adalah pertama, pluralisme keagamaan. Bahwa budaya Melayu dari segi ke-islaman yang dominan dalam keagamaannya secara fiqh adalah mazhab Syafi’i dan secara teologis adalah kalam Asy’ari. Ini mungkin betul kalau dilihat dari masa lalu, tetapi di masa sekarang masyarakat pluratiltik akan semakin meningkat dan yang kemudian terjadi adalah ketika arus globalisasi  semakin tinggi sehingga sebuah identitasnya suatu kebudayaan dipertanyakan kembali, di mana berbagai aliran berbagai paham masuk dalam literature kebudayaan Melayu, maka yang kemudian terjadi adalah dengan semakin menonjolnya pluralisme dalam keberagamaan kita. Dalam hal ini konteks sejarah Melayu adalah pengalaman nyata yang menjadi dasar dari pluralisme social keagamaan di budaya Melayu. Ini bias dibuktikan ketika pluralisme kebudayaan Melayu tidak menimbulkan bahaya infiltrasi atau kesatuan (wilayah) negara dalam lingkup kebudayaan Islam pada kebudayaan Melayu itu sendiri.

Karakter yang menonjol kedua, dari kebudayaan Melayu selain pluralisme keagamaan adalah munculnya toleransi yang begitu kuat pada setiap pemeluknya. Factor penyebabnya adalah terutama, pertama, adalah dari factor budaya atau orang-orang Melayu itu sendiri. Yang kedua, yang sangat relevan dengan Islam adalah watak yang baik atau sering disebut dengan penetration pacific. Sehingga dilihat dari cuaca penyebarannya sampai sekarang kita bias melihat bahwa wilayah kultur dunia Melayu sering kita sebut sebagai wilayah penyebaran yang biasa disebut dengan “fondamentalisme” Islam. Dalam hal ini kasusu-kasus tersebut jarang kita temukan, dengan catatan itu semua kalau kita lihat dalam skala perbandingan dengan Timur Tengah. Karena gerakan yaaang mungkin bias disebut “fundamentalisme” hanya pernah muncul sekali di Melayu ketika gerakan Padri muncul di Sumatera Barat dengan menempuh jalan kekerasan, yaitu dengan memaksa kepada kaum Muslim yang tidak sepaham dengan mereka untuk mengikuti paham mereka.

Ciri yang ketiga dalah, “moderat”. Dalam masa yang kontemporer ini dengan sistem dan lingkungan politik yang lebih otleran, baik terhadap penguasa yang berada di Melayisia maupun di Indonesia. Ini semua bias dibandingkan dengan rejim-rejim yang berkuasa di Timur Tengah yang lebih opresif terhadap lawan-lawan politiknya. Moderat ini juga dimungkinkan / dimanfaatkan oleh ideologi politik yang berkembang. Baik ideologi politik di Malaysia maupun di Indonesia adalah ideologi politik yang sesuai dengan Islam. Bahkan Pancasila di Indonesia oleh banyak ulama diakui tidak bertentangan dengan Islam. Tetapi di Malysia sendiri yang namanya Islam menjadi agama seni sehingga persoalan-persoalan ideologis ini tidak akan pernah terjadi, apa lagi kemudian memunculkan konflik. Dengan demikian tidak ada alas an yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok atau berkeinginan mengubah ideology.

Praktek keagamaan yang ketiga, yang relevan kita bicarakan dalam perspektif di masa depan  termasuk di dalamnya adalah pluralisme, moderasi, dan atau dengan toleransi akan menjadikan Islam sangat akomodatif di dalam pengembangannya ke arah kemajuan dan perkembangan Islam di masa yang akan dating.

Faktor-faktor di atas itulah yang menyebabkan kondisi Muslim di Asia Tenggara ini menjadi lebih banyak mempunyai ukuran pada tingkat mistiknya, ketimbang harus berurusan dengan urusan fikih dan syariatnya. Ini pula yang menjadikan landasan sebagian kaum Muslimin  di Asia Tenggara yang tidak mempunyai historical golden (latar belakan sejarah yang kuat), sehingga akar kemuslimannya pun carut marut dengan kebudayaan setempat. Berbeda dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana ada latar belakang sejarah yang menghimpit mereka, yaitu kejayaan dinasti Abbasiyah, yang kemudian dijadikan kekayaan bagi historical mereka. Dan kekayaan ini menjadi dasar dalam pencapaian sebuah peradaban baru bagi masa lalunya.

Sebaliknya kita melihat bahwa kaum Muslimin di dunia Melayu justru (karena tidak ada bantuan sejarah) tidak ambil perduli dengan apa yang disebut dengan kekayaaan masa lalunya itu. Dan oleh karena itu, eksperimen-eksperimen baru mungkin bias dilakukan, termasuk eksperimen baru dalam bidang kebudayaan, dan di dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. Praktek keagamaan yang keempat, yang berkaitan dengan sejarah kontemporer adalah bahwa kaum muslimin di dunia Muslim lebih banyak menggunakan pendekatan kurtural katimbang politik. Pendekatan cultural itu adalah dengan membangun masyarakat Muslim dengan salah satu upayanya adalah membentuk jaringan usahawan Melayu antar Bangsa. Ini salah satu bentuk culture approuch untuk menyelesaikan, untuk mengatsi, mencoba membangun social ekonomi muslim di serantau ini.

Jadi dalam skala perbandingannya, maka kita melihat bahwa political approach yang mungkin digunakan, baik oleh Indonesia pada tahun 50-an, dan di Toimur Tengah yang sampai masa-masa sekarang ini sering mengalami kegagalan. Apalagi kalau kita lihat di dalam konteks kehidupan di Timur Tengah dalam skala perbandingan bahwa political approach ini pendekatan yang demikian acapkali found to file, found to of press by rejim.dan biasanya ditindas oleh rejim-rejim yang berkuasa, karena kekuasaan yang demikian adalah menjadi watak dan karakter dari suatu kekuasaan yang sulit dihindari. Yaitu kecenderungan menindas bagi lawan-lawan politiknya. Jadi political of cours ini lebih dimungkinkan bagi pembangunan yang riil, pembangunan yang lebih menghasilkan, pembangunan yang lebih kongkret bagi bangsa Melayu di dunia ini.

Dari pendekatan cultural ini juga saya kira fenomena yang muncul di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir ini muncul dari pendekatan cultural ini. Seperti dalam fenomena yang orang sering menyebutnya sebagai proses santrinisasi kum muslimin. Yaitu proses peningkatan cinta, rasa terikat kepada Islam, dan sebagainya. Karena itu, karakter yang saya lihat di dalam proses perkembangan Islam di masa yang akan datang, terutama di Melayu ini akan sangat memungkinkan, sehingga tidak berlebihan banyak pengamat yang melihat mengatakan bahwa ‘kebangkitan Islam’ akan muncul dari dunia Melayu dari Asia Tenggara keteimbanga daari Timur Tengah,  yaitu sering disebut orang sebagai center of contenue (secara terus-menerus).

Kalau kita mencoba merefleksikan sejarah lebih jauh lagi, maka ada beberapa hal yang mungkin penting dikemukakan di sini dalam kaitannya dengan pokok persoalan tema ini yaitu mengenai pembentuakan jaringan keusahaan. Maka kami mencaba mengambil posisinya dari sejarah. Pertama.berkaitan dengan konteks perkembangan Islam dan indikasinya terhadap perkembangan social-budaya, dan sebagainya. Kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada masa perdagangan , masa perdagangan itu kira-kira pada abad ke 14 sampai pada abad 17 justru pada abad ini  terjadi kebangkitan islam, sehingga Islam menjadi agama yang mayoritas di Asia Tenggara ini. Ada beberapa factor yang penting di sini bahwa terdapat korelasi yang positif  di antara masa perdagangan, dan masa perdagangan adalah masa kesultanan-kesultanan yang yaaang menjadi pusat perdagangan, menjadi lintas samudera, lintas benua bagi perdagangan internasional. Jadi paada masa itulah masa gomg perdagangan daripada kesultanan-kesultanan ini secara prakteknya melakukan perdagangan dan kesultanan ini terjadi islamisasi agama di Asia Tenggara ini, sehingga mayoritas penduduknya beragama Islam. Ada beberapa factor, yang pertama dan paling penting  adalah bahwa Islam itu dijadikan power. Political power, terjadi karena pada waktu itu para sultan melihat bahwa daerahnya dikuasai oleh masyarakat muslim, maka Islam menjadi menarik bagi orang-orang yang beroientasi pada politik, dan inilah salah satu factor yang mendorong proses terjadinya islamisasi. Factor yang kedua, adalah kenyataan (wealt) tadi sudah digambarkan bahwa negara-negara atau kesultanan-kesultanan yang ada di Nusantara ini, menjadi pusat perdagangan, pusat lintas perdagangan dunia. Oleh karena itu, Islam menjadi elit, jadi kalau orang ingin kaya ya .. masuk Islamlah ia, atau ingin bergengsi mereka akan masuk Islam. Inilah yang mendorong perkembangan Islam secara fenomenal dalam kerangka perkembangan Islam di Nusantara ini.

Nah apa indikasi pada masa perdagangan, kemudian Islamisasi. Kenapa terjadi korelasi positif di antara the x of promis, di mana masa kesultanan-kesultanan ini yang menguasai perdagangan dengan perkembangan kemajuan-kemajuan, terutama kemajuan intelektualisme Islam. Masa ini adalah masa kejayaan kesultanan, kekayaan yang memberi patronase terhadap para ulama, pemikir, sehingga dengan patronase yang diberikan mereka mampu berkarya yang besar. Jadi kesemuanya itu berkaitan erat dengan kemajuan ekonomi yang berkembangan pada masa itu. Yang kedua adalah apa yang biasa disebut dengan kemajuan jaringan ulama, karena ada dukungan patronase dari penguasa maka memungkinkan terjadinya perjalanan ulama ke tempat lain, atau ke ulama lain. Sehingga transmisi keilmuan, transmisi intelektuan keislamannya menjadi lebih tertib. Oleh karena itu, tidak menghirankan kalau orang seperti Hamzah Fansuri dilaporkan pernah pergi ke daerah semenanjung banten, atau di Sumatera. Ini tidak mengherankan. Ini semua bias terjadi karena factor ekonomi yang memberikan kemajuan, dan yang kedua proses Kesultanan yang memberikan patronasenya kepada para pemikir dan ulma di zamannya. Yang pada gilirannya para ulama ini tersebar di seluruh Nusantara, yang karya-karya mereka tersebar sampai ke pelosok yang lebih jauh, seperti karya Sumatrani dan sebagainya itu akan cepat tersebar ke segala penjuru dengan mobilitas ulama yang tinggi.

Kemudian kolonialisme datang,  pada abad 17 terjadi konsolidasi kekuasaan, maka yang terjadi kemudian adalah distorsi, betul-betul distorsi tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga dalam bidang ekonomipun terjadi. Inilah yang kemudian terjadi apa yang disebut oleh Syeh Husain Alatas repartasi dalam kehidupan Pribumi, sehingga kemudian orang-orang Muslim Pribumi hanya mampu menjadi pedagang kecil, pedagang-pedagang. Satu hal lagi yaitu dengan diterapkannya sistem monopoli oleh kolonialisme dalam hal itu kolonialisme Belanda itu menimbulkan atau mengakibatkan kemunduran ekonomi yang parah bagi pribumi karena diterapkannya sistem monopoli Belanda. Karena monopoli ini semuanya semakin tidak terkontrol, dan terjadilah pengkayaan kekuasaan. Jadi inilah yang sebenarnya betul-betul terjadi pada waktu itu pada masyarakat pribumi, yaitu masyarakat bumi putera Melayu. Nah, kalu kita melihat dari pengalaman sejarah ini, kita melihat bahwa jaringan usahawan yang harus kita perhatikan adalah unsur dari membangkitkan tradisi budaya, tradisi politik, yang telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Melayu Raya ini. Cuma ada satu masalah dalam hal ini, yaitu apa yang disebut dengan travel dari para ulama pada saat itu, yang kita kembangkan pada saat kini. Yaitu denga adanya arus informasi bagi perkembangan intelektualisme sekarang ini tidak seimbang. Ini adalah suatu persoalan yang mungkin harus diatasi. Arus informasi tentang pemikiran keagamaan di wilayah Malaysia itu tidak banyak menyebar di Indonesaia, sehingga tidak seimbang. Dan menjadi satu masalah yang kongkret yang ada di depan mata kita, yaitu tentang intelektualisme.  Jadi kesimpulannya yaitu bahwa arus informasi intelektualisme di Asia Tenggara ini sudah begitu parahnya. Jadi harus diciptakan secara lebih berimbang untuk mengatasi itu semua.

 

 

2 thoughts on “KEBANGKITAN ISLAM AKAN MUNCUL DARI MELAYU

  1. Assalamualaikum, Artikel yang menarik. Memang boleh dirasai bahawa pergerakkan dan inklinasi kpd Islam bertambah dengan pesat kebelakangan ini. InsyaAllah ia akan menjadi kuat ummah di rantau ini dan moga berbakti kepada ummah secara global.
    Pada masa yang sama, dengan keterbukaan informasi (internet etc) pengaruh barat turut menjadi2.
    Maka, polarasi sedang berlaku, dimana satu golongan terdorong kearah Islam, dan satu kearah liberal.
    Mungkin ini sebagai pembeda/ furqan.
    Wallahu a’lam.

    Terima kasih tuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s