Sudahkah Kita Mengaplikasikan Surat Al Ma’un?

 

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ ﴿٧


Ara-ayta alladzii yukadzdzibu biddiini, fadzaalika alladzii yadu”u alyatiima, walaa yahudhdhu ‘alaa tha’aami almiskiini, fawaylun lilmushalliina, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuuna, alladziina hum yuraauun, wayamna’uuna almaa’uuna.

Translate:
1). Hast thou observed him who belieth religion
2). That is he who repelleth the orphan
3). And urgeth not the feeding of the needy
4). Ah , woe unto worshippers
5). Who are heedless of their prayer
6). Who would be seen ( at worship )
7). Yet refuse small kindnesses!

Artinya:
1). Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2). Itulah orang yang menghardik anak yatim
3). Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
5). (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya
6). Orang-orang yang berbuat riya
7). Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Surat yang amat pendek tapi syarat teguran bagi kita sebagai seorang yang mengaku beragama Islam.

Kumpulan Hadist tentang Ilmu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ

Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ

Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ

Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Sumber: http://hikmah-kata.blogspot.com/2012/09/hadits-tentang-menuntut-ilmu-pengetahuan.html Continue reading

Cara Bersyukur Kepada Allah

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah S.W.T terdiri dari empat komponen, yaitu:

1. Syukur dengan Hati.

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah”
(QS. An-Nahl: 53)

Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya. Continue reading

Yang mengurangi Pahala Puasa

Ada 3 golongan dalam menyambut Ramadhan, yaitu yang gembira, yang setengah hati dan yang ketakutan.

Yang mengurangi  pahala puasa atau yang akan menguranginya adalah sebagai berikut:

1. Qauluz-zur yakni ucapan dusta [Fathul Bari:4/117]

2. Mengamalkan qouluz-zur yakni perbuatan yang merupakan tindak lanjut atau konsekuensi dari ucapan dusta [Fathul Bari:4/117]

3. Jahl yakni amalan kebodohan [Fathul Bari:4/117]

4. Rafats yakni seperti dijelaskan Al-Mundziri: Terkadang kata ini disebutkan dengan makna bersetubuh, dan terkadang dengan makna, ‘kata-kata yang keji dan kotor’ dan terkadang bermakna ‘pembicaraan seorang lelaki dan perempuan seputar hubungan sex’, dan banyak dari ulama mengatakan: ‘yang dimaksud dengan kata rafats dalam hadits ini adalah ‘kata kotor keji dan jelek’. [Shahih Targhib:1/481] dengan makna yang terakhir ini maka punya pengertian yang lebih luas dan tentu mencakup makna-makna yang sebelumnya disebutkan. –Wallahu A’lam’-

5. Laghwu yakni ucapan yang tidak punya nilai atau manfaat [lihat An-Nihayah:4/257 dan Al-Mishbahul Munir:555] dan –wallahu a’lam- mencakup juga amalan yang tidak ada manfaatnya [lihat semakna dengannya kitab Faidhul Qodir:6228]

6. Shakhab yakni bersuara keras dan ribut dikarenakan pertikaian [An-Nihayah:3/14, Lisanul Arab:1/521] Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: Yakni jangan berteriak dan jangan bertikai [catatan kaki Mukhtashar Shahih al-Bukhari:443]

7. Bertengkar mulut

(http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=article_detail&idb=97)

8. Bergunjing.

9. Keras hati.

10. Berbuat aniaya.

11. Berangan-angan kosong

12. Mengutamakan urusan dunia.

13. Bersaksi palsu.

14. dan lain-lain

Mari kita jalani puasa Ramadhan dengan amalan-amalan yang baik, dan mari kita menjalaninya dengan gembira dan ikhlas.

Amar Ma’ruuf Nahi Munkar

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [QS. Aali ‘Imraan : 104].

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [QS. Aali ‘Imraan : 110].

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Qais bin Muslim, dari Thaariq bin Syihaab, ia berkata : Telah berkata Abu Sa’iid (Al-Khudriy) : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 5008; shahih]”

Amar ma’ruuf nahi munkar adalah pengaplikasian Al Qur’an dalam kehidupan. Berikut sajian power pointnya.

KAJIAN MINGGU PAGI 31 Maret 2013

Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah

  • Hadist di bawah ini memberikan petunjuk apa yang harus kita lakukan agar Allah nantinya menolong kita di saat tidak ada seorangpun mampu menolong kita; di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Tentu saja agar amal kita bermakna dan dihitung oleh Allah, kita harus ikhlas hanya karena untuk mendapatkan ridha Allah swt. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan petunjuk di bawah ini.
  • “Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
    1. Pemimpin yang adil,
    2. Pemuda yang sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,
    3. Orang yang hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
    4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
    5. Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’
    6. Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan
    7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dari kedua matanya” (HR. Bukhari & Muslim).

Menjadi Muslim yang Mukhsin

Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra.:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir“.

Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan salat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan“.

Orang itu kembali bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu“.

Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah“.

Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“.

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Panggillah orang itu kembali!“. Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka“.

Menjadi Muslim yang Mukhsin